Susilo Bambang Yudhoyono, yang merupakan Presiden ke-6 Indonesia, menegaskan pentingnya bagi pemerintah untuk mendengarkan suara rakyat. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Endgame Town Hall yang berlangsung pada 19 September 2026 di Jakarta dan kemudian diunggah di YouTube oleh Gita Wirjawan pada 23 Oktober 2026.
“Nah, kalau misalnya sumbatan komunikasi ini enggak boleh terjadi ya, artinya wajib hukumnya pemerintah negara mendengar suara rakyatnya,” ungkap SBY. Ia menekankan bahwa sebagai seorang pemimpin, penting untuk mengetahui apakah terdapat sumbatan dalam komunikasi serta alasan di baliknya. “Wajib mengetahui ada enggak sumbatan komunikasi, ada enggak kemacetan di sana sini dan mengapa terjadi kemacetan itu,” jelasnya.
Peran Pemimpin dalam Mengelola Komunikasi
SBY menjelaskan bahwa setiap pemimpin memiliki cara tersendiri dalam mengelola komunikasi. “Makanya dulu kalau sudah seperti itu, pemimpin bertanggung jawab, tidak boleh abai, tidak boleh menganggap ah itu non issue. This is very important issue. Oleh karena itu ya caranya masing-masing untuk mencegah itu,” katanya.
Selama dua periode kepemimpinannya, SBY mengaku sering menegur bawahannya yang tidak memberikan laporan yang akurat. “Tetapi yang jelas kalau dulu, saya akan tegur kalau ada menteri, kepala lembaga pemerintahan tidak menyampaikan apa adanya, apa yang menjadi perhatian publik,” tambahnya.
Kritik Sebagai Sarana untuk Perbaikan
Menurut SBY, kritik dari masyarakat sangat penting untuk didengar agar solusi dapat ditemukan. “Kritik-kritik mereka agar saya tahu untuk mencari solusinya apa yang dikeluhkan. Begitu. Dan kemudian makanya menteri melaporkan apa adanya,” sambungnya. Ia menyadari bahwa kritik sering kali tidak mudah diterima, tetapi tetap diperlukan. “Mungkin tidak enak didengar oleh Presiden, tapi I have to mendengar itu untuk kelanjutan dari pemerintahan,” pungkasnya.