Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mencatatkan penurunan elektabilitas dalam beberapa survei yang dilakukan oleh Poltracking Indonesia selama satu tahun terakhir. Hal ini menjadi sorotan dari Kristia Budhyarto, yang dikenal sebagai Dede Budiyarto, mantan Komisaris Independen PT Pelni. Dalam unggahannya di platform X, Dede membagikan data mengenai elektabilitas PDIP berdasarkan hasil survei tersebut.
Dede menuliskan, “Elektabilitas PDI-P versi Poltracking,” dalam unggahannya yang diposting pada Kamis, 24 September 2026. Menurut data yang dirilis oleh Poltracking, elektabilitas PDIP tercatat sebesar 15,7 persen pada bulan Oktober 2025. Namun, angka ini mengalami penurunan menjadi 15,4 persen pada Maret 2026, 14,4 persen pada Mei 2026, dan 12,3 persen pada Juli 2026. Pada bulan Agustus 2026, elektabilitas PDIP kembali turun menjadi 11,6 persen.
Survei terbaru yang dilakukan oleh Poltracking berlangsung antara 14 hingga 20 Agustus 2026, melibatkan 1.220 responden yang tersebar di 38 provinsi. Dalam simulasi pemilihan suara yang melibatkan 18 partai politik, PDIP memperoleh elektabilitas sebesar 11,6 persen, yang menempatkannya di bawah Partai Gerindra dengan 23,2 persen dan di atas Partai Golkar yang mencapai 10,4 persen.
Kritikan Dede Budiyarto
Menanggapi penurunan elektabilitas partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri, Dede Budiyarto menyampaikan sindiran kepada beberapa akun media sosial yang disebutnya sebagai “bajer.” Dalam unggahannya, ia menandai tiga akun, termasuk akun Chusnul Chotimah, seorang pegiat media sosial dan komentator politik. Dede menulis, “Pake trus tuh bajer-bajer modelan @03__nakula @Opposite6888 @ch_chotimah2 n’ genk knalpot brong?”
Hubungan dengan Penggunaan Buzzer
Dede Budiyarto juga mengaitkan penurunan elektabilitas PDIP dengan dugaan penggunaan buzzer untuk mempengaruhi opini publik. Ia menambahkan, “Makin NYUNGSEP @PDI_Perjuangan,” mengindikasikan bahwa partai tersebut semakin terpuruk dalam pandangannya.