Update
Ekonomi

Penurunan Harga Minyak Global Terkait Pemulihan Ekspor Arab Saudi

Harga minyak dunia mengalami penurunan pada Senin, 21 September, seiring dengan pulihnya ekspor minyak dari Arab Saudi. Harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masing-masing turun menjadi...

Dewa Raka 21 September 2026 50 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 89 sen atau 0,89 persen menjadi US$99,41 per barel. Ilustrasi (iStock/nielubieklonu).
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 89 sen atau 0,89 persen menjadi US$99,41 per barel. Ilustrasi (iStock/nielubieklonu).

Harga minyak global mengalami penurunan pada hari Senin, 21 September, setelah investor mencatat bahwa ekspor minyak Arab Saudi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Harga minyak Brent tercatat turun sebesar 81 sen atau 0,78 persen, menjadi US$103,06 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan sebesar 89 sen atau 0,89 persen, sehingga mencapai US$99,41 per barel.

Serangan Houthi dan Dampaknya

Di tengah penurunan harga ini, serangan yang dilakukan oleh kelompok Houthi di Timur Tengah masih berlangsung. Kelompok yang mendapatkan dukungan dari Iran tersebut mengklaim telah melancarkan serangan terhadap beberapa lokasi di Riyadh menggunakan rudal dan drone pada hari Sabtu, 19 September. Selain itu, mereka juga menyatakan telah menyerang fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, yang merupakan salah satu pusat ekspor minyak utama Arab Saudi.

Serangan terhadap pipa minyak East-West milik Saudi Aramco memaksa perusahaan tersebut untuk mengalihkan sebagian pengiriman minyak melalui Selat Hormuz pada bulan September dan Oktober. Sebelumnya, pengiriman melalui Yanbu juga sempat dihentikan sebagian.

Pemulihan Ekspor Arab Saudi

Data sementara dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan bahwa ekspor minyak Arab Saudi meningkat menjadi sedikit di atas 4 juta barel per hari pada bulan September, naik dari 2,4 juta barel per hari pada bulan Agustus, yang merupakan level terendah sejak tahun 2013. Analis dari JPMorgan menyatakan bahwa meskipun ada gangguan pada pipa minyak Arab Saudi, aliran minyak dari Timur Tengah tetap kuat. "Arus minyak Timur Tengah masih sangat kuat meski terjadi gangguan pada jalur pipa East-West Arab Saudi," ungkap analis JPMorgan pada 18 September.

Dalam sepuluh hari terakhir, total aliran minyak rata-rata mencapai 17,1 juta barel per hari, meskipun angka tersebut 6,1 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan rata-rata tahun 2025. Data satelit juga menunjukkan bahwa pengiriman minyak Arab Saudi melalui Selat Hormuz meningkat, dengan rata-rata mencapai 2,9 juta barel per hari dalam enam hari terakhir, naik dari 700 ribu barel per hari pada bulan Agustus.

Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah masih berlanjut. China telah meminta Iran untuk membantu menekan kelompok Houthi setelah Arab Saudi meminta bantuan dari Beijing. Di sisi lain, Iran dan Amerika Serikat kembali saling melontarkan ancaman pada hari Minggu, 20 September. Presiden AS Donald Trump menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang diperkirakan akan berada di New York minggu ini untuk menghadiri Sidang Umum PBB.

Artikel Terkait