Pemilu 2029 masih tersisa dua tahun, namun dinamika politik di Indonesia mulai menunjukkan pergeseran yang menarik. Beberapa partai politik mengalami perubahan dalam tingkat keterpilihan, sementara banyak pemilih yang belum mengambil keputusan. Temuan ini terungkap dalam survei terbaru yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) pada 8 hingga 20 September 2026.
Dalam survei tersebut, Partai Gerindra tetap berada di posisi teratas dengan elektabilitas sebesar 17,3 persen. Partai yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto ini unggul tipis dari PDI Perjuangan yang berada di posisi kedua dengan elektabilitas 16,8 persen, hanya terpaut 0,5 poin persentase. Di bawah kedua partai tersebut, persaingan semakin ketat dengan Partai NasDem meraih 7,3 persen, diikuti oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 6,2 persen, Golkar 6,1 persen, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 5,5 persen.
Posisi PSI yang Mencolok
Salah satu temuan yang menarik perhatian adalah posisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang kini dipimpin oleh jajaran baru. PSI mencatatkan elektabilitas sebesar 4,3 persen, setara dengan Partai Amanat Nasional (PAN) dan berada di atas Partai Demokrat yang meraih 4,1 persen. Peneliti LKPI, Irwan Ardiansyah, menjelaskan bahwa peta elektabilitas ini belum dapat dianggap sebagai gambaran akhir menuju Pemilu 2029, mengingat masih banyak pemilih yang belum menentukan pilihan mereka. "Sebanyak 22,5 persen responden tidak memberikan jawaban," ungkap Irwan dalam keterangannya pada 5 Oktober 2026.
Peluang di Tengah Ketidakpastian
Angka tersebut menjadi catatan penting dari survei, menunjukkan bahwa dengan waktu yang masih panjang menuju Pemilu 2029, basis pemilih yang belum menentukan pilihan dapat menjadi arena perebutan suara bagi semua partai. Meskipun Gerindra memimpin, keunggulan tersebut belum dapat dianggap aman karena jarak dengan PDIP sangat tipis. Sementara itu, partai-partai di papan tengah masih memiliki kesempatan untuk meningkatkan dukungan, terutama jika mereka berhasil menarik pemilih yang saat ini belum menentukan pilihan.
Posisi PSI, yang kini berada di sekitar ambang batas parlemen 4 persen, menunjukkan bahwa partai ini mulai memiliki basis dukungan yang cukup kuat. Namun, selisihnya dengan Demokrat masih sangat tipis. Perubahan preferensi pemilih dapat terjadi hingga hari pemungutan suara. Di sisi lain, Demokrat yang berada di angka 4,1 persen juga masih terlibat dalam persaingan yang ketat, sama halnya dengan PAN yang memiliki angka identik dengan PSI.
LKPI menilai besarnya proporsi responden yang belum memberikan jawaban menunjukkan bahwa kontestasi Pemilu 2029 masih sangat terbuka. "Data tersebut menunjukkan bahwa menjelang kontestasi politik di Pemilu 2029 masih terdapat proporsi responden yang cukup besar yang belum memberikan pilihan atau belum menentukan jawaban ketika ditanya mengenai partai politik pilihan mereka," jelas Irwan. Oleh karena itu, angka elektabilitas saat ini lebih tepat dipahami sebagai potret sementara, bukan prediksi hasil Pemilu 2029.
Dengan banyaknya pemilih yang belum menentukan pilihan, persaingan tidak hanya terjadi antarpartai dengan elektabilitas tinggi. Partai-partai dengan suara di kisaran 4 persen pun masih memiliki peluang untuk memperlebar jarak atau justru terlempar dari persaingan jika gagal mempertahankan dukungan mereka. Survei LKPI melibatkan 1.246 responden yang tersebar di 36 provinsi di seluruh Indonesia, menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 3,1 persen. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dan panggilan telepon yang dipandu oleh pewawancara.
Hasil survei ini menunjukkan bahwa peta politik menuju 2029 masih sangat dinamis. Gerindra memang memimpin, tetapi PDIP berada sangat dekat. Di bawahnya, partai-partai papan tengah berusaha merebut ruang, sementara PSI mulai mendekati zona aman. Yang paling menentukan justru berasal dari 22,5 persen pemilih yang belum menentukan pilihan. Kelompok inilah yang berpotensi mengubah peta persaingan ketika mesin politik partai mulai bergerak lebih agresif menjelang Pemilu 2029.