Peta persaingan dalam Pemilihan Presiden 2029 belum menunjukkan satu nama yang jelas mendominasi, berdasarkan hasil riset dari tiga lembaga, yaitu Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Parameter Politik Indonesia (PPI), dan Media Survey National (Median). Survei tersebut menunjukkan perbedaan signifikan dalam mengukur elektabilitas para calon presiden potensial. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, memimpin dalam survei SMRC dengan elektabilitas mencapai 35,5 persen. Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menempati posisi teratas dalam survei PPI dan Median dengan elektabilitas masing-masing 31,6 persen dan 32,3 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa persaingan menuju Pilpres 2029 masih terbuka lebar.
SMRC: Dedi Mulyadi Memimpin Jauh
Dalam survei nasional yang dilakukan pada 1 hingga 10 Oktober 2026, SMRC menggunakan simulasi semi-terbuka untuk mengukur elektabilitas sejumlah nama calon presiden. Dedi Mulyadi memimpin dengan angka 35,5 persen, jauh di atas Anies Baswedan yang berada di posisi kedua dengan 10,3 persen, dan Prabowo Subianto di urutan ketiga dengan 9,8 persen. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masing-masing memperoleh 8,4 persen dan 5 persen. Penempatan Dedi di posisi teratas menjadi temuan paling mencolok dalam survei tersebut, dengan selisih 25,2 poin persentase dari Anies dan 25,7 poin dari Prabowo. Namun, hasil ini perlu dipahami dalam konteks metode survei yang digunakan dan dibandingkan dengan lembaga lain secara hati-hati.
PPI: Prabowo Masih di Puncak
Survei yang dilakukan oleh Parameter Politik Indonesia antara 26 September hingga 6 Oktober 2026 menunjukkan hasil yang berbeda. Dalam simulasi pertanyaan terbuka, Prabowo menempati posisi pertama dengan elektabilitas 31,6 persen, diikuti oleh Dedi Mulyadi dengan 11,4 persen dan Anies Baswedan dengan 10,1 persen. Gibran Rakabuming Raka meraih 6,9 persen, sementara Ganjar Pranowo memperoleh 4,4 persen. Dalam survei ini, Prabowo unggul 20,2 poin persentase atas Dedi, dan 25,5 persen responden mengaku belum menentukan pilihan, menunjukkan adanya ruang untuk perubahan preferensi pemilih.
Median: Persaingan Ketat antara Dedi dan Anies
Dalam survei Median yang dilakukan dari 21 Juli hingga 2 Agustus 2026, Prabowo kembali menunjukkan dominasi dengan elektabilitas 32,3 persen. Dedi Mulyadi berada di urutan kedua dengan 19,8 persen, hanya terpaut tipis dari Anies Baswedan yang meraih 19,5 persen. Hasil ini menunjukkan persaingan ketat antara Dedi dan Anies, dengan selisih yang sangat kecil. Meskipun Prabowo tetap memimpin, kedekatan angka Dedi dan Anies menunjukkan bahwa posisi kedua dalam survei Median belum menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Analisis Perbedaan Hasil Survei
Perbedaan hasil antara SMRC, PPI, dan Median tidak serta-merta menunjukkan adanya kesalahan dari salah satu lembaga. Ketiganya menggunakan metode dan periode pengumpulan data yang berbeda. Jenis pertanyaan yang diajukan juga memengaruhi jawaban responden. Dalam pertanyaan terbuka, responden diminta menyebutkan nama tokoh secara spontan, sedangkan simulasi semi-terbuka memberikan daftar nama yang dapat membantu responden mengenali kandidat. Selain itu, waktu survei yang berbeda juga dapat mempengaruhi opini publik yang berubah seiring perkembangan politik. Desain penelitian, termasuk jumlah responden dan teknik pengambilan sampel, juga berperan penting dalam hasil yang diperoleh.
Secara keseluruhan, jika dilihat dari hasil masing-masing lembaga, terdapat dua gambaran utama. SMRC menempatkan Dedi Mulyadi jauh di atas tokoh lainnya dalam simulasi semi-terbuka, sementara PPI dan Median menempatkan Prabowo di posisi teratas. Meskipun Dedi Mulyadi menjadi tokoh yang paling mencolok dalam perbedaan hasil tersebut, perjalanan menuju pemilihan presiden masih panjang dan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kinerja pemerintahan dan dinamika politik. Dengan waktu yang masih tersisa hingga Pilpres 2029, hasil survei ini sebaiknya dipahami sebagai potret awal dari persaingan yang ada.