Update
Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Mencapai 9,95 Persen, Tertinggi Sejak Pandemi

Vietnam mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 9,95 persen hingga September 2026, menjadikannya sebagai yang tercepat dalam empat tahun terakhir. Meskipun demikian, capaian ini masih di bawah target ta...

Eko Prasetyo 03 October 2026 63 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Ekonomi Vietnam tumbuh 9,95 persen di kuartal III 2026, tercepat sejak pandemi, didukung kinerja ekspor kuat dan investasi infrastruktur. (FOTO:CNN Indonesia/Safir Makki).
Ekonomi Vietnam tumbuh 9,95 persen di kuartal III 2026, tercepat sejak pandemi, didukung kinerja ekspor kuat dan investasi infrastruktur. (FOTO:CNN Indonesia/Safir Makki).

Pertumbuhan ekonomi Vietnam meningkat pesat hingga mencapai 9,95 persen pada September 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ini merupakan pencapaian tercepat sejak terjadinya pandemi Covid-19. Data yang dirilis pada Sabtu (3/10) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi untuk kuartal III tahun 2026, yang mencakup bulan Juli hingga September, mengalami peningkatan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tercatat 8,81 persen setelah direvisi.

Faktor Pendorong Pertumbuhan

Menurut laporan dari Reuters, pertumbuhan pada kuartal III didorong oleh kinerja ekspor yang kuat serta investasi infrastruktur yang masif. Namun, hasil ini masih di bawah target pertumbuhan tahunan Vietnam yang ditetapkan di atas 10 persen. Sebagai negara yang sangat bergantung pada ekspor, Vietnam juga menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya impor sepanjang tahun 2026 akibat konflik di Iran, yang menyebabkan defisit perdagangan mencapai rekor tertinggi dalam sembilan bulan pertama tahun ini.

Pada bulan September, kinerja ekspor barang meningkat 39,1 persen menjadi US$59,48 miliar dibandingkan tahun lalu, sementara impor juga meningkat 45,8 persen menjadi US$58,21 miliar. Akibatnya, surplus perdagangan Vietnam hanya tumbuh tipis menjadi US$1,27 miliar bulan lalu. Selama periode Januari hingga September, total ekspor meningkat 24,5 persen menjadi US$434,30 miliar, sementara impor melonjak lebih tinggi, yaitu 36,7 persen menjadi US$453,72 miliar. Hal ini mengakibatkan Vietnam mencatat defisit perdagangan sebesar US$19,42 miliar, yang merupakan angka tertinggi yang pernah tercatat.

Inflasi dan Investasi

Tarif impor energi yang lebih tinggi menjadi salah satu penyebab utama melebarnya defisit perdagangan. Meskipun volume impor minyak mentah mengalami penurunan sebesar 13,5 persen, nilainya justru meningkat 14,4 persen. Untuk bahan bakar olahan, Vietnam mencatat peningkatan 11,5 persen dalam volume, dengan lonjakan nilai hingga 79,3 persen. Badan Statistik Nasional Vietnam (NSO) melaporkan bahwa harga konsumen pada bulan September naik 5,08 persen dibandingkan tahun lalu, dan produksi industri juga meningkat 16,7 persen secara tahunan.

Selain itu, total investasi selama sembilan bulan pertama tahun 2026 mengalami kenaikan sebesar 16,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, berkat upaya Vietnam untuk meningkatkan investasi publik di sektor infrastruktur guna mendorong pertumbuhan. Arus masuk investasi asing ke Vietnam juga meningkat 12,1 persen menjadi US$21,1 miliar dibandingkan tahun lalu.

Pekan lalu, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperbarui proyeksi pertumbuhan ekonomi Vietnam untuk tahun 2026 menjadi 7,8 persen, naik dari sebelumnya yang diperkirakan 7,2 persen. ADB menilai prospek pertumbuhan Vietnam dalam jangka pendek tetap positif, didukung oleh ekspansi yang berkelanjutan di sektor manufaktur, tingginya konsumsi domestik, serta aliran investasi asing langsung yang terus mengalir.

Meskipun demikian, ADB juga memperingatkan bahwa dalam jangka panjang, permintaan global yang cenderung melemah dan meningkatnya ketidakpastian eksternal dapat membebani pertumbuhan ekonomi Vietnam. Kenaikan harga energi serta kondisi keuangan global yang lebih ketat dapat menambah tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar. Laura Schwartz, analis senior Asia di Verisk Maplecroft, menyatakan bahwa kekhawatiran mulai muncul mengenai potensi pertumbuhan ekonomi Vietnam yang terlalu cepat, terutama mengingat percepatan inflasi dalam beberapa bulan terakhir. "Potensi kekurangan pasokan listrik dalam jangka pendek dan menengah juga akan menghadirkan tantangan yang signifikan," ujarnya.

Artikel Terkait