Peta elektabilitas partai politik di Indonesia kembali mengalami perubahan berdasarkan hasil survei nasional yang dilakukan oleh Poltracking Indonesia. Dalam survei tersebut, Partai Gerindra menempati posisi teratas dengan elektabilitas mencapai 23,2 persen. Sementara itu, PDI Perjuangan berada di urutan kedua dengan angka 11,6 persen. Di sisi lain, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mencatatkan elektabilitas sebesar 2,3 persen, yang lebih tinggi dibandingkan dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang hanya memperoleh 1,9 persen.
Yoki Alvetro, peneliti dari Poltracking Indonesia, menjelaskan bahwa angka-angka tersebut diperoleh melalui simulasi surat suara yang melibatkan 18 partai politik. "Pada simulasi surat suara 18 partai politik, Partai Gerindra memperoleh elektabilitas 23,2 persen," ungkap Yoki. Hasil survei ini menunjukkan bahwa Gerindra unggul 11,6 poin persentase dari PDI Perjuangan. Partai Golkar menempati posisi ketiga dengan elektabilitas 10,4 persen, diikuti oleh PKB dengan 6,2 persen, Partai Demokrat 6,1 persen, Partai NasDem 4,4 persen, PAN 3,4 persen, dan PKS 3,3 persen. PSI dan PPP berada di urutan berikutnya dengan masing-masing 2,3 persen dan 1,9 persen, sementara partai-partai lainnya tercatat di bawah 1 persen.
Tren Elektabilitas Gerindra dan PDI Perjuangan
Melihat tren yang ada, elektabilitas Partai Gerindra memang masih yang tertinggi, meskipun mengalami penurunan setelah mencapai angka 26,1 persen pada Maret 2026. Pada bulan Mei, elektabilitas Gerindra tercatat 25,9 persen, kemudian turun menjadi 23,5 persen pada Juli, dan kembali turun menjadi 23,2 persen pada pengukuran bulan Agustus 2026. Sementara itu, PDI Perjuangan juga menunjukkan penurunan dalam pengukuran yang dilakukan oleh Poltracking. Pada Agustus 2026, elektabilitas partai tersebut berada di angka 11,6 persen, yang menyebabkan jarak antara Gerindra dan PDI Perjuangan mencapai 11,6 poin persentase. Namun, penting untuk dicatat bahwa angka-angka survei ini mencerminkan preferensi responden pada saat penelitian dilakukan dan bukan merupakan hasil pemilu yang sebenarnya.
Posisi PSI dan Responden yang Belum Menentukan Pilihan
Survei ini juga menarik perhatian terhadap posisi PSI yang mencatatkan elektabilitas 2,3 persen, yang 0,4 poin persentase lebih tinggi dibandingkan PPP. Dalam simulasi terbaru Poltracking, PSI menempati urutan kesembilan dari 18 partai yang disimulasikan. Meski begitu, angka 2,3 persen masih di bawah beberapa partai lain yang memiliki elektabilitas di atas 3 persen. Selain itu, terdapat 25,3 persen responden yang menyatakan tidak tahu atau tidak memberikan jawaban terkait pilihan partai. Besarnya kelompok ini menunjukkan bahwa masih ada bagian responden yang belum menentukan pilihan dalam survei. Oleh karena itu, hasil survei Agustus 2026 tidak dapat dipandang sebagai gambaran pasti mengenai hasil Pemilu 2029.
Poltracking juga mencatat bahwa persepsi publik bisa berubah tergantung pada isu-isu yang berkembang dan langkah-langkah strategis yang diambil oleh masing-masing partai.
Survei nasional Poltracking Indonesia dengan judul "Membaca Peta Elektoral & Dinamika Partai Politik" dilaksanakan pada 14-20 Agustus 2026. Metode yang digunakan adalah stratified multistage random sampling dengan melibatkan 1.220 responden yang tersebar di 38 provinsi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh pewawancara yang terlatih dengan bantuan teknologi aplikasi. Sampel disusun secara proporsional berdasarkan data Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024, dengan stratifikasi berdasarkan proporsi jenis kelamin pemilih. Survei ini memiliki margin of error sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.