Pengamat politik Rocky Gerung kembali menjadi topik hangat di kalangan publik. Dikenal sebagai pengkritik tajam terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo, kini sikap politik Rocky mendapat perhatian karena dianggap lebih lembut terhadap Presiden Prabowo Subianto. Komika dan pengamat isu publik, Pandji Pragiwaksono, menyampaikan pandangannya yang menyentil Rocky, yang tampak bertransformasi menjadi "juru bicara" bagi Prabowo.
Kontras dalam Kritik
Sorotan ini muncul seiring dengan pembahasan mengenai arah kritik Rocky Gerung dalam konteks politik saat ini. Dalam sebuah podcast yang diunggah ulang di akun Youtube Gagal Sarjana, Pandji Pragiwaksono menyatakan bahwa terdapat perbedaan mencolok antara cara Rocky mengkritik kebijakan Jokowi dan sikapnya terhadap pemerintahan Prabowo. "Di episode itu gua baru tahu kalau Rocky Gerung ternyata jubir Prabowo. Pada saat itu, dia kan keras banget ke Jokowi, Gibran, ke Kaesang itu keras banget. Giliran ke Prabowo tuh enggak logis," ungkap Pandji, menunjukkan keheranannya terhadap standar kritik yang berbeda yang ditunjukkan Rocky.
Janji Kritik yang Tak Terwujud
Publik pun mengingat kembali jejak digital Rocky Gerung di masa lalu. Sebelum Prabowo menjabat sebagai presiden, Rocky sering kali mengungkapkan janji politik yang cukup berani dalam berbagai forum. Ia menegaskan bahwa tidak akan pandang bulu dalam mengawasi kekuasaan, terlepas siapa pemimpin yang menjabat. "Saya mau kritik kekuasaan. Pak Prabowo itu akan saya kritik 12 menit setelah dia dilantik," seru Rocky dalam rekaman yang kembali viral. Namun, kenyataan politik saat ini dianggap oleh beberapa pengamat berbeda jauh dari narasi yang pernah disampaikan sebelumnya.
Alih-alih mengkritik Prabowo secara langsung, Rocky belakangan ini justru terlihat membela berbagai program unggulan pemerintah, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih. Saat program-program tersebut mendapat kritik dari kalangan akademisi dan oposisi, Rocky justru secara konsisten membela. Ia menyatakan bahwa gagasan besar yang diusung Prabowo memiliki landasan filosofis dan konstitusional yang kuat. Menurut Rocky, jika ada masalah teknis atau penyimpangan, yang perlu diperbaiki adalah jajaran pelaksana atau menterinya, bukan presiden.
"Lu mau batalin MBG, mau batalin koperasi, enggak bisa, itu ada di konstitusi. Kalau koperasinya korupsi, koruptornya yang dihajar, bukan koperasinya. Kalau kuku bermasalah, kukunya yang dicabut, bukan jempolnya yang diamputasi," tegas Rocky saat membela arah kebijakan sosialisme ala Prabowo. Ia juga menambahkan bahwa kegagalan dalam penerjemahan program sering kali disebabkan oleh ketidakfahaman para menteri di kabinet, yang dinilainya belum sejalan dengan gagasan ideologis presiden. Akibatnya, Rocky berpendapat, presiden sering kali terpaksa bertindak sebagai juru bicara bagi kabinetnya sendiri.
Tanggapan Terhadap Tuduhan
Tuduhan bahwa dirinya telah "dijinakkan" atau menjadi bagian dari kekuasaan direspons dengan tegas oleh Rocky Gerung. Menanggapi sinisme publik yang menyebutnya sebagai antek rezim dan isu mengenai fasilitas rumah di Sentul dari Prabowo, Rocky membantah keras tuduhan tersebut. "Roki sudah jadi anteknya Prabowo, dapat rumah dari Prabowo di Sentul. Saya masuk Sentul lebih dulu dari Prabowo! Otaknya di mana anak-anak ini? Picik betul," cetus Rocky menanggapi isu gratifikasi politik tersebut.
Rocky menegaskan bahwa independensinya sebagai pengamat politik dan akademisi tidak pernah dibeli oleh pihak manapun. Ia berargumen bahwa keterlibatannya dalam memberikan masukan objektif terhadap program pemerintah bukanlah bentuk kompromi politik, melainkan upaya untuk menjaga agar dialektika publik tetap mengedepankan kualitas argumentasi. Ia juga menyentil kelompok oposisi yang dinilainya sering mengkritik tanpa memahami substansi masalah dan ideologi pembangunan yang sedang dijalankan. "Kenapa semua oposisi marah ke segala arah? Marah tanpa arah itu tolol, dungu. Masa depan bangsa itu ditentukan oleh kualitas argumen seseorang," pungkasnya.
Pergeseran dinamika ini tentu memicu perdebatan di masyarakat. Sebagian menganggap Rocky Gerung telah kehilangan tajinya sebagai simbol oposisi akal sehat, sementara yang lain berpendapat bahwa Rocky hanya berusaha bersikap objektif dan rasional dalam mengawal pemerintahan Prabowo Subianto.