Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengumumkan rencana pemerintah untuk mengembangkan bahan bakar nabati (BBN) jenis E50. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Bahlil menjelaskan bahwa kebijakan ini adalah kelanjutan dari keberhasilan program biodiesel yang telah mencapai tahap B50. "Hari ini tidak bisa kita menggantungkan harapan kita kepada negara lain, terutama energi. Maka berangkat dari keberhasilan kita dalam membangun biodiesel, sekarang kan kita sudah sampai ke B50, campuran dari fosil dan nabati," ujarnya saat ditemui di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, pada Senin (21/9).
Produksi Etanol dari Komoditas Lokal
Menurut Bahlil, bahan baku utama untuk E50 adalah etanol yang dihasilkan dari komoditas pertanian lokal seperti tebu, singkong, dan jagung. Ia menekankan bahwa program E50 tidak hanya bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor bensin, tetapi juga diharapkan dapat menciptakan banyak lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.
Mengenai jadwal pelaksanaan, Kementerian ESDM bersama Direktorat Jenderal Migas sedang merancang roadmap atau peta jalan untuk penerapan program ini secara bertahap. Bahlil menegaskan bahwa ketersediaan bahan baku dari dalam negeri adalah syarat mutlak agar program ini tidak berujung pada impor baru. "Contoh 2027 kita akan menerapkan E10. 2028 kita akan bangun E20, sampai ke depan. Tetapi kita harus menyesuaikan dengan industri kita. Kita tidak mau menerapkan E10, E20, atau E50, tapi etanolnya diimpor dari luar, sama saja itu. Jadi kita pengin untuk memanfaatkan produksi kita dalam negeri," jelasnya.
Instruksi Presiden untuk Pengembangan E50
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan Bahlil untuk menyiapkan pengembangan bahan bakar minyak (BBM) campuran bioetanol 50 persen atau E50. Arahan tersebut disampaikan dalam Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) pertama tahun 2026 yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (17/9).
Bahlil menjelaskan bahwa E50 dirancang dengan mempelajari program biodiesel 50 persen (B50) yang telah diterapkan secara nasional sejak 1 Juli 2026. "Nah, belajar berangkat dari ini, Bapak Presiden tadi memerintahkan untuk segera menyusun langkah-langkah yang sama untuk kita membangun E50," ungkap Bahlil usai rapat.
Ia juga mencatat bahwa konsumsi solar nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun, sementara kebutuhan bensin berkisar antara 39 hingga 40 juta kiloliter per tahun. Bahlil mengklaim bahwa program B50 telah berhasil menghentikan impor solar jenis CN 48, dan skema serupa kini sedang disiapkan untuk E50, mengingat volume konsumsi bensin hampir setara dengan solar. Ia berharap E50 dapat secara signifikan mengurangi impor BBM, meskipun belum merinci target waktu pelaksanaan program tersebut.