Jakarta, CNN Indonesia -- Pada perdagangan Jumat (21/8) pagi, nilai tukar rupiah berada di angka Rp17.729 per dolar AS, mengalami penguatan sebesar 19 poin atau 0,11 persen jika dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya. Kenaikan nilai rupiah ini sejalan dengan penguatan beberapa mata uang Asia terhadap dolar AS.
Di antara mata uang Asia yang menguat, won Korea Selatan mencatatkan kenaikan sebesar 0,80 persen, dolar Singapura meningkat 0,14 persen, yen Jepang terapresiasi 0,07 persen, dan yuan China menguat 0,03 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong cenderung stabil.
Mata Uang Asia Lainnya Melemah
Namun, tidak semua mata uang Asia menunjukkan pergerakan positif. Peso Filipina mengalami depresiasi sebesar 0,12 persen, dan ringgit Malaysia turun 0,01 persen terhadap dolar AS. Di sisi lain, sebagian besar mata uang utama dari negara maju juga menguat terhadap dolar AS. Dolar Australia naik 0,28 persen, euro Eropa meningkat 0,12 persen, poundsterling Inggris terapresiasi 0,10 persen, dan franc Swiss juga menguat 0,12 persen. Sementara itu, dolar Kanada mengalami penurunan sebesar 0,13 persen.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak dalam pola konsolidasi terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini. "Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi terhadap dolar AS. Meskipun rupiah masih didukung oleh penurunan indeks dolar AS, kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi beban," jelas Lukman.
Dia juga menambahkan bahwa pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu dan melihat menjelang rilis data neraca transaksi berjalan Indonesia untuk kuartal II 2026 yang dijadwalkan pada siang hari. "Investor cenderung wait and see menantikan data neraca transaksi berjalan kuartal II Indonesia yang akan dirilis siang ini," ungkapnya.
Lukman memproyeksikan bahwa pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS.