Mantan sekretaris Kementerian BUMN dan pegiat media sosial, Said Didu, memberikan tanggapan tegas mengenai mantan presiden Joko Widodo. Tanggapan ini muncul setelah Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang didampingi Jokowi, mengungkapkan pandangannya tentang kemungkinan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak akan bertahan hingga tahun 2029.
Budi Arie Setiadi menyatakan harapannya agar pernyataannya tidak dijadikan bahan spekulasi politik. Dalam sebuah video yang beredar, ia mengungkapkan kepada Jokowi bahwa berdasarkan instingnya, situasi politik saat ini 'kayaknya enggak sampai 2029'. Ia juga menggunakan istilah 'patahan sejarah' untuk menggambarkan kemungkinan adanya perubahan politik yang lebih cepat dari yang diperkirakan.
Pernyataan Budi Arie dan Respons Peserta
Dalam video tersebut, Budi Arie menyampaikan, “Tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, ‘Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?’ Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029.” Ia kemudian mengajukan pertanyaan kepada para peserta dialog mengenai kemungkinan terjadinya percepatan, yang dijawab dengan antusias oleh peserta, “Siap!”
Budi juga mengaitkan situasi ini dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, serta menyinggung pengalaman Reformasi 1998 sebagai contoh perubahan politik yang terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Ia berpendapat bahwa keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi dapat mempengaruhi dinamika politik nasional.
Tanggapan Said Didu
Menanggapi pernyataan tersebut, Said Didu melalui akun media sosial X miliknya memberikan respons yang cukup tajam. Ia menuliskan, “Solo sedang makan bubur panas Hambalang.” Selain itu, ia juga menyoroti kesimpulan yang diambil mengenai Jokowi yang dianggap belum rela atau ikhlas melepaskan kekuasaan yang pernah dipegangnya. “Akhirnya terbuka dan terkuak bahwa Jokowi tidak rela serahkan kekuasaan ke siapapun, termasuk ke Pak @prabowo terkuak,” tambahnya. “Geng SOP plus poros SSB sedang bergerak,” tuturnya.