Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Stella Christie, menyoroti bahwa 61% pelajar di Indonesia kini menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam aktivitas belajar mereka. Hal ini terjadi di tengah perkembangan teknologi yang pesat dan semakin banyaknya alat berbasis AI yang tersedia.
Risiko Penggunaan AI dalam Pendidikan
Stella Christie mengingatkan bahwa meskipun AI dapat memberikan kemudahan, ada risiko yang perlu diwaspadai. Ia mengungkapkan kekhawatirannya tentang potensi pelajar menjadi 'malas berpikir' akibat ketergantungan pada teknologi. "Kita harus hati-hati, karena jika terlalu bergantung pada AI, otak kita bisa menjadi malas berpikir," ujarnya.
Dalam konteks ini, Stella menekankan pentingnya keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan tetap berpikir kritis. Ia mendorong para pendidik untuk mengajarkan siswa cara menggunakan AI secara bijak dan tidak sepenuhnya mengandalkannya dalam proses belajar.
Pentingnya Pembelajaran Aktif
Wakil Menteri juga mengajak para guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendorong siswa berpikir kreatif dan kritis. "Kita perlu mendidik generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga mampu berpikir secara mandiri," tambahnya.
Dengan demikian, Stella Christie berharap agar penggunaan AI di kalangan pelajar dapat dilakukan dengan cara yang positif dan produktif, tanpa mengorbankan kemampuan berpikir kritis mereka.