Shein, raksasa dalam industri fashion cepat yang berasal dari China, mengumumkan rencananya untuk melaksanakan penawaran umum saham perdana (IPO) di Bursa Hong Kong pada tanggal 1 September 2026. Perusahaan ini bertujuan untuk mengumpulkan dana sebesar US$1,8 miliar, yang jika dikonversi, setara dengan Rp31,78 triliun berdasarkan kurs Rp17.705 per dolar AS. IPO ini diperkirakan akan menjadi penawaran saham baru terbesar yang terjadi di Hong Kong sepanjang tahun 2026.
Namun, valuasi Shein mengalami penurunan yang signifikan, yakni sebesar 70 persen dari puncaknya yang hampir menyentuh US$100 miliar pada tahun 2022. Dalam prospektus IPO yang dirilis, Shein berencana untuk menawarkan sebanyak 280 juta saham dengan kisaran harga antara HK$47,60 (Rp107,3 ribu) hingga HK$49,50 (Rp111,96 ribu) per saham.
Proyeksi Pendanaan dan Valuasi
Dokumen prospektus menunjukkan bahwa perusahaan memperkirakan dapat mengumpulkan dana hingga HK$13,86 miliar. Valuasi perusahaan diperkirakan mendekati US$27 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan valuasi pasar privat yang mencapai sekitar US$98,2 miliar pada tahun 2022. Penurunan ini terjadi di tengah tantangan yang dihadapi perusahaan, termasuk tarif perdagangan yang meningkat, persaingan yang semakin ketat, serta biaya yang terus merangkak naik.
Menurut analis Morningstar, Lorraine Tan, penurunan valuasi ini mencerminkan perubahan dalam prospek bisnis Shein dibandingkan dengan dua hingga tiga tahun lalu ketika rencana IPO pertama kali muncul. Ia menambahkan, "Kami menilai minat investor global terhadap Shein kemungkinan melemah akibat kondisi tersebut, sehingga harga saham saat pencatatan ditetapkan lebih rendah."
Tantangan yang Dihadapi Shein
Shein sebelumnya telah membatalkan rencana untuk melantai di Bursa New York dan London dalam empat tahun terakhir. Penurunan valuasi juga dipicu oleh melambatnya perkembangan bisnis. Dalam prospektus IPO, Shein memperkirakan pertumbuhan pendapatan pada semester pertama tahun 2026 akan sejalan dengan pertumbuhan 1,1 persen yang tercatat pada kuartal pertama. Margin operasional juga diperkirakan sedikit lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Perusahaan ritel ini menyatakan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh biaya impor baru di Eropa, tekanan harga, serta penurunan permintaan di Timur Tengah. Di Amerika Serikat, pendapatan Shein mengalami penurunan sebesar 14,3 persen pada kuartal pertama tahun 2026 setelah pemerintah AS menghapus pembebasan bea masuk untuk paket bernilai kurang dari US$800.
Shein juga mencatat kerugian kuartalan sebesar US$99 juta akibat penghapusan pembebasan bea cukai untuk paket dengan nilai di bawah US$800, serta biaya fair value sebesar US$328 juta akibat perubahan akuntansi. Selain itu, perusahaan menghadapi tantangan dari pengawasan regulator di AS dan Eropa, dengan cadangan sebesar US$80 juta telah disiapkan untuk berbagai perkara hukum dan regulasi.
Analis dari uSMART Securities, Dickie Wong, menilai bahwa prospek IPO Shein masih menghadapi berbagai tantangan karena pertumbuhan perusahaan yang melambat secara signifikan. "Saya tidak terlalu optimistis terhadap IPO Shein, pertumbuhan perusahaan sudah melambat secara signifikan," ujarnya.
Pada tanggal 31 Agustus, Shein akan mengumumkan harga final IPO dan mulai diperdagangkan di bursa Hong Kong pada 1 September 2026. Sejumlah investor utama telah berkomitmen untuk membeli saham Shein senilai sekitar US$383 juta, yang dipimpin oleh pemegang saham yang sudah ada, seperti Boyu, Tiger Global, dan General Atlantic. Selain itu, Tencent, Greenwoods, Taikang Life, dan UBS Asset Management juga turut berpartisipasi dalam IPO ini. Shein menyatakan bahwa sekitar 80 persen dari dana yang diperoleh dari IPO akan digunakan untuk meningkatkan teknologi serta memperluas merek dan kehadiran global perusahaan.