Update
Diskon Spesial Gelas Cantik di Transmart, Hanya Rp30 Ribuan --- Inisiatif B50 dari Kilang Plaju: Langkah Menuju Kemandirian Energi Nasional --- Diskon Besar untuk Alat Elektronik di Transmart pada Hari Gajian Sigit Menolak Usulan Ina Liem Agar Gibran Mundur: Rakyat Tahu Siapa yang Ingin Menjatuhkannya PPPK Paruh Waktu Non-Guru Akan Menjadi ASN Penuh pada 1 Januari 2027 Kolaborasi ITB dan Think Tank PBB di Portugal untuk Mendorong Penggunaan AI dalam Pengelolaan Kota Berbasis Kearifan Lokal Sanksi OJK Terhadap Pelanggaran di Pasar Modal Hingga Oktober 2026 Mahfud MD Menanggapi Putusan MA Terkait Surat Keterangan Gibran IPW Minta Keterbukaan Terkait Dugaan Pelanggaran Impor Udang di Jawa Timur Memahami Perbedaan Antara Jurusan Sistem Informasi dan Teknik Informatika Diskon Spesial Gelas Cantik di Transmart, Hanya Rp30 Ribuan --- Inisiatif B50 dari Kilang Plaju: Langkah Menuju Kemandirian Energi Nasional --- Diskon Besar untuk Alat Elektronik di Transmart pada Hari Gajian Sigit Menolak Usulan Ina Liem Agar Gibran Mundur: Rakyat Tahu Siapa yang Ingin Menjatuhkannya PPPK Paruh Waktu Non-Guru Akan Menjadi ASN Penuh pada 1 Januari 2027 Kolaborasi ITB dan Think Tank PBB di Portugal untuk Mendorong Penggunaan AI dalam Pengelolaan Kota Berbasis Kearifan Lokal Sanksi OJK Terhadap Pelanggaran di Pasar Modal Hingga Oktober 2026 Mahfud MD Menanggapi Putusan MA Terkait Surat Keterangan Gibran IPW Minta Keterbukaan Terkait Dugaan Pelanggaran Impor Udang di Jawa Timur Memahami Perbedaan Antara Jurusan Sistem Informasi dan Teknik Informatika
Politik

Sindiran Tajam Hensa kepada Partai Politik: Pemuda Hanya Diperhatikan Saat Pemilu

Survei terbaru menunjukkan bahwa meskipun pemuda Indonesia memiliki ketertarikan tinggi terhadap politik, mereka merasa suara dan aspirasi mereka tidak terwakili. Hensa menyoroti bahwa pemuda hanya di...

Kalula Putri 30 October 2026 31 pembaca fajar.co.id fajar.co.id
Analis komunikasi politik Hendri Satrio alias Hensat. Foto: dok. pribadi
Analis komunikasi politik Hendri Satrio alias Hensat. Foto: dok. pribadi

Di Indonesia, generasi muda sering kali dianggap apatis terhadap masalah kebangsaan. Namun, hasil survei terbaru dari Lembaga Survei KedaiKOPI menunjukkan bahwa 64,6 persen responden dari kalangan pemuda justru menunjukkan ketertarikan yang tinggi untuk terlibat dalam isu politik nasional. Meskipun demikian, survei yang sama juga mengungkapkan kenyataan yang menyedihkan, di mana 62,7 persen pemuda merasa bahwa suara dan aspirasi mereka tidak terwakili dalam pembuatan kebijakan publik.

Menurut analis riset KedaiKOPI, Ashma, kesenjangan ini bukan disebabkan oleh ketidakberminatan pemuda untuk terlibat, melainkan karena kurangnya ruang yang mendukung partisipasi mereka. "Jadi sebenarnya ada minat yang cukup tinggi bagi pemuda untuk berpartisipasi dalam politik, tapi memang persepsi tidak terwakili itu cukup besar juga," jelas Ashma saat memaparkan hasil survei di Jakarta.

Minat Politik dan Ketidakpuasan Pemuda

Riset KedaiKOPI mencatat bahwa ketidakpuasan pemuda paling tinggi terkait dengan agenda pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dengan angka mencapai 65,8 persen. Selain itu, jaminan kebebasan dalam menyampaikan kritik di ruang publik juga menjadi perhatian dengan persentase 62,8 persen. Ketika ditanya tentang prioritas perubahan yang diharapkan, mayoritas pemuda menempatkan pemberantasan korupsi dan penegakan hukum di posisi teratas (53,8 persen), diikuti oleh pembukaan lapangan kerja dan upah yang layak (50,5 persen).

Founder KedaiKOPI, Hendri Satrio (Hensa), memberikan kritik tajam kepada elit dan partai politik di Indonesia yang hanya memanfaatkan suara pemuda saat pemilu. "Siapa sebetulnya yang akan peduli dengan anak muda Indonesia? Pemuda Indonesia hanya dicari lima tahun sekali, jam 7 sampai jam 12, pada saat pengambilan suara," ungkap Hensa.

Saluran Aspirasi Non-Konvensional

Kekecewaan terhadap saluran formal membuat banyak pemuda beralih ke saluran non-konvensional untuk menyampaikan aspirasi mereka. Survei menunjukkan bahwa 65,9 persen responden menilai aksi demonstrasi sebagai cara yang paling efektif untuk menyuarakan pendapat, sementara saluran aduan resmi pemerintah dianggap paling tidak efektif dengan hanya 51,6 persen.

Peneliti senior Lili Romli menjelaskan bahwa fenomena meningkatnya aksi demonstrasi di kalangan pemuda disebabkan oleh adanya jurang antara minat politik dan keyakinan bahwa suara mereka didengar oleh pemegang kekuasaan. "Anak-anak muda tertarik terhadap politik, tetapi tidak yakin suaranya didengar dapat menghasilkan perubahan. Akhirnya, untuk mencari perubahan itu, mereka melakukan demonstrasi," jelas Lili. "Padahal itu kan saluran partisipasi politik yang nonkonvensional. Partisipasi politik konvensional itu melalui partai politik, lembaga parlemen, maupun lembaga politik yang lain," tambahnya.

Lili juga mendesak para pemimpin partai politik dan anggota parlemen untuk menjadikan hasil riset ini sebagai bahan evaluasi dan refleksi kelembagaan yang mendasar. "Kenapa demonstrasi terus-menerus? Ya, karena mereka tidak didengar," ujarnya. Ia menekankan bahwa tingginya minat politik pemuda yang mencapai 64,6 persen adalah bukti bahwa generasi muda Indonesia tidak menjauh dari isu-isu kenegaraan. "Jangan-jangan demonstrasi itu adalah bagian dari kepedulian terhadap politik itu sendiri," tuturnya.

Artikel Terkait