Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat merasa tidak puas dengan kinerja Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan ini disampaikan seiring dengan rilis hasil survei SMRC untuk periode Oktober 2026, yang menunjukkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berada di posisi teratas dalam pengukuran elektabilitas sejumlah tokoh nasional.
Survei yang dilaksanakan antara 1 hingga 10 Oktober 2026 ini mencatat Dedi Mulyadi dengan angka elektabilitas sebesar 35,5 persen. Di urutan berikutnya, Anies Baswedan memperoleh 10,3 persen, Prabowo Subianto mendapatkan 9,8 persen, dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meraih 8,4 persen. Sementara itu, responden yang belum menentukan pilihan atau termasuk dalam kategori undecided voters mencapai 13,9 persen. Meski demikian, angka-angka tersebut perlu dipahami dalam konteks metode pengukuran yang diterapkan oleh SMRC, dan tidak ada penjelasan rinci mengenai pertanyaan survei atau skenario pemilihan yang digunakan untuk menghasilkan data tersebut.
Ketidakpuasan Publik Terhadap Kinerja Pemerintah
Saiful menyatakan bahwa hasil survei terbaru mencerminkan perubahan dalam persepsi publik setelah dua tahun kepemimpinan Prabowo Subianto. “Sekarang mayoritas publik tidak puas dengan kinerja presiden,” ujarnya. Namun, informasi yang tersedia tidak menyebutkan persentase responden yang merasa puas atau tidak puas, sehingga rincian mengenai ketidakpuasan publik belum dapat dipastikan.
Ia juga membandingkan perhatian media terhadap hasil riset SMRC di bulan Oktober 2026 dengan survei yang dirilis pada bulan Juli 2026, dan menilai bahwa hasil riset terbaru belum mendapatkan perhatian yang seimbang. Menurut Saiful, publikasi survei independen sangat penting agar masyarakat bisa mengakses informasi terkait pandangan dan aspirasi pemilih.
Pentingnya Pemantauan Elektabilitas untuk Pemilu
Saiful menekankan pentingnya pemantauan secara berkala terhadap elektabilitas dan opini masyarakat untuk memastikan pemilu yang jujur dan adil. Ia berpendapat bahwa pemantauan seharusnya mencakup seluruh pemilih melalui metode sensus, meskipun biaya yang tinggi membuat pendekatan ini sulit dilakukan secara rutin. Survei dengan sampel ilmiah dianggap sebagai alternatif untuk menangkap dinamika opini publik dan mendeteksi indikasi ketidakberesan dalam proses politik. “Yang mungkin lewat survei dengan sampel ilmiah. Bila ada irregularity (ketidakberesan) yang tertangkap dalam survei, itu perlu didalami. Mungkin ada intervensi, bisa legal, bisa ilegal,” ungkapnya.
Saiful juga menekankan bahwa temuan survei yang menunjukkan adanya masalah perlu ditelusuri lebih lanjut, meskipun ia tidak menyatakan bahwa setiap indikasi dalam survei membuktikan terjadinya intervensi. Ia menggarisbawahi tantangan dalam publikasi hasil penelitian, termasuk masalah pembiayaan dan keputusan dari pihak tertentu yang tidak ingin hasil survei dipublikasikan. “Banyak survei benar, tetapi tak diberitakan karena dibiayai pihak yang tak mau dirilis. Berkat teknologi, survei sekarang relatif murah. Masyarakat bisa melakukannya secara independen untuk menangkap maunya rakyat. Penting bagi yang peduli. Kalau tidak peduli, ya maklum saja,” tegasnya.
Saiful juga mengaitkan isu publikasi survei dengan kondisi politik di tingkat elite, di mana ia menilai ketiadaan oposisi resmi di parlemen dapat mempersempit ruang kontrol terhadap kekuasaan dan memengaruhi iklim demokrasi. “Penguasa memborong, memonopoli, dan mengontrol,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa situasi ini berisiko mengurangi kebebasan masyarakat dalam memperoleh dan menyampaikan informasi yang akurat. “Kebebasan menyampaikan informasi benar tergerus. Menyuburkan hoaks,” tuturnya.
Metode Survei SMRC Oktober 2026
Survei SMRC yang dilakukan pada periode 1 hingga 10 Oktober 2026 melibatkan 1.213 warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Dari total tersebut, 1.013 responden yang memiliki ponsel diwawancarai melalui telepon dengan metode double sampling, sementara 200 responden non-ponsel diwawancarai secara tatap muka dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling. SMRC menyebutkan bahwa survei ini memiliki margin of error sekitar 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.