Tragedi mematikan kembali melanda sektor pertambangan di Sudan. Kompleks penambangan emas Al Zara yang berlokasi di Kota Nuhud, Provinsi Kordofan Barat, mengalami keruntuhan hebat pada Selasa (15/9/2026) malam. Insiden tersebut menimbun ratusan pekerja yang sedang beraktivitas di dalam lorong bawah tanah, dengan jumlah korban tewas terkonfirmasi sedikitnya 67 orang. Hingga kini, upaya pencarian dan evakuasi terhadap puluhan pekerja lain yang masih terperangkap terus dilakukan.
Sorotan Standar Keselamatan dan Laporan Pemantau
Wilayah Kordofan Barat tempat musibah terjadi berada di bawah kendali milisi Pasukan Dukungan Reaksi Cepat (RSF), kelompok paramiliter yang terlibat pertempuran dengan militer resmi pemerintah Sudan selama lebih dari tiga tahun terakhir.
Perwakilan dari Jaringan Dokter Sudan, organisasi kemanusiaan di bidang medis, mengkhawatirkan angka kematian akan terus bertambah seiring proses penyisiran reruntuhan oleh tim SAR. Lembaga tersebut juga menyoroti operasional tambang yang dinilai abai terhadap standar keselamatan serta perlindungan diri bagi para penambang.
Sementara itu, kelompok pemantau Observatorium Kordofan melaporkan bahwa indikasi awal pergerakan tanah di lokasi tambang sebenarnya sudah berlangsung sejak Minggu (13/9/2026). Kerusakan struktur tanah tersebut meruntuhkan jaringan lorong bawah tanah yang saling terhubung sepanjang lebih dari 1 km, tempat sekitar 70 pekerja dinyatakan tewas maupun hilang.
Kesaksian Korban Selamat
Kondisi di lokasi kejadian turut disampaikan oleh Al Amin Suliman, salah seorang penambang yang berhasil menyelamatkan diri dari musibah tersebut. Ia menceritakan bahwa hingga Rabu (15/9/2026) pagi, tim di lapangan telah mengevakuasi puluhan jenazah, sementara masih banyak pekerja lain yang terkurung di dalam tanah.
Rekam Jejak Industri Emas dan Perang Saudara
Meski berstatus sebagai salah satu negara penghasil emas utama dunia, insiden mematikan di lokasi penambangan menjadi peristiwa yang sering berulang di Sudan. Catatan sebelumnya menunjukkan musibah serupa pernah terjadi pada tahun 2023 yang menelan 14 korban jiwa, serta tragedi tahun 2021 yang merenggut nyawa 38 penambang.
Sebagian besar komoditas emas dari wilayah ini diselundupkan keluar dari Sudan untuk mendanai aktivitas militer RSF. Negara ini sendiri kian terpuruk akibat perang saudara yang pecah sejak April 2023 antara milisi RSF dan angkatan bersenjata pemerintah Sudan. Mengutip data dari Armed Conflict Location & Event Data, konflik berdarah tersebut diperkirakan telah merenggut tak kurang dari 59.000 jiwa.