Update
Politik

Tantangan Dedi Mulyadi di Gerindra Menjelang Pemilu 2029

Dedi Mulyadi, yang dikenal sebagai KDM, mulai menjadi sorotan dalam konteks politik menjelang Pemilu 2029. Pengamat politik Hendri Satrio mengungkapkan tantangan yang dihadapi KDM dalam membangun keku...

Arya Yudhistira 03 October 2026 53 pembaca fajar.co.id fajar.co.id
Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi.

Nama Dedi Mulyadi, atau yang akrab disapa KDM, kini menjadi perbincangan hangat dalam dinamika politik menjelang Pemilu 2029. Hendri Satrio, seorang pengamat politik, menilai bahwa pembahasan mengenai posisi KDM tidak hanya terkait dengan elektabilitasnya yang tinggi, tetapi juga kemampuan dalam membangun kekuatan politik di dalam partai dan di tingkat masyarakat. Analisis ini disampaikan Hendri saat berbincang dengan Helmy Yahya dalam siniar Helmy Yahya Bicara yang ditayangkan pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Menurut Hendri, KDM masih harus mempertimbangkan beberapa faktor jika namanya dihubungkan dengan kemungkinan menjadi pendamping Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa posisi KDM di Partai Gerindra terbilang baru jika dibandingkan dengan sejumlah tokoh lain yang telah lama berada di dekat Prabowo. "Kalau Pak Prabowo maju, hitung-hitungan saya KDM itu mungkin sulit jadi wakil Pak Prabowo walaupun dia sama-sama Gerindra. Menteri-menteri atau lingkaran yang bekerja saat ini adalah orang-orang ideologisnya Pak Prabowo, seperti Teddy, Sugiono, dan Sudaryono," jelas Hendri.

Posisi KDM dalam Gerindra

Dedi Mulyadi bergabung dengan Gerindra setelah sebelumnya aktif di Partai Golkar dan saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat untuk periode 2025-2030. Hendri menilai latar belakang ini membuat posisi KDM berbeda dari tokoh-tokoh yang telah lama berkolaborasi dengan Prabowo dan Gerindra. Ia menyebut beberapa figur di sekitar Prabowo, seperti Teddy Indra Wijaya, Sugiono, dan Sudaryono, sebagai orang-orang yang memiliki kedekatan ideologis dan politik dengan Prabowo.

Dalam diskusi tersebut, Helmy Yahya juga menyoroti dukungan KDM di Jawa Barat, yang merupakan provinsi dengan jumlah pemilih terbesar. Hendri mengakui bahwa dukungan massa dapat menjadi modal politik, tetapi kekuatan tersebut harus dapat diterjemahkan menjadi daya tawar yang lebih luas. Ia mencatat bahwa dukungan masyarakat dan posisi KDM di Gerindra harus dibangun secara bersamaan. Besarnya dukungan di daerah belum tentu menjamin posisi seorang tokoh dalam kalkulasi internal partai.

Pentingnya Jaringan Relawan

Hendri juga menekankan pentingnya KDM untuk membangun kekuatan dari akar rumput. Ia membandingkan dengan pengalaman Joko Widodo menjelang Pemilu 2014, di mana relawan menjadi salah satu faktor yang memperkuat posisi tawar Jokowi dalam berhadapan dengan partai politik. "Apakah KDM kemudian punya relawan-relawan seperti waktu Jokowi punya relawan yang pasang badan kuat? Nah, ini sampai hari ini belum ketemu," ungkap Hendri.

Lebih lanjut, Hendri menggunakan istilah "dipangku mati" untuk menggambarkan kemungkinan dinamika yang dapat terjadi pada kader dengan basis politik yang besar. Ia menjelaskan bahwa istilah tersebut merujuk pada situasi di mana seorang kader tetap difasilitasi untuk berada di dalam partai, tetapi ruang untuk mengembangkan kekuatan politiknya bisa terbatas. "Penguasa politik di Indonesia itu sangat canggih perhitungannya. KDM bisa saja mengalami situasi dipangku mati, di mana ia difasilitasi dan dijaga agar tidak berpindah ke partai lain dan tetap mendukung Gerindra, namun ruang geraknya untuk membesar sebagai capres atau cawapres dibatasi," tambah Hendri.

Hendri juga mengaitkan pembahasan mengenai calon wakil presiden 2029 dengan regenerasi politik jangka panjang. Ia berpendapat bahwa tokoh yang terpilih sebagai calon wakil presiden tidak hanya akan menghadapi satu pemilu, tetapi juga akan mendapatkan modal politik untuk menghadapi dinamika di periode berikutnya. Dengan demikian, kedekatan seorang tokoh dengan lingkaran politik Prabowo dan hubungannya dengan Gerindra menjadi bagian dari kalkulasi yang mungkin muncul di internal partai.

Dalam analisisnya, Hendri menekankan bahwa posisi KDM tidak hanya ditentukan oleh angka elektabilitas. Dukungan masyarakat, posisi dalam Gerindra, hubungan dengan Prabowo, serta kemampuan membangun jaringan relawan adalah beberapa faktor yang perlu diperhatikan. "Menurut saya, harus ada langkah-langkah bagaimana dia bisa masuk ke lingkarannya Pak Prabowo dan membuat Pak Prabowo nyaman bersama dia. Kalau dia masih terlalu jauh, kandidat kuatnya ya akan tetap seputar orang-orang di sekitar Pak Prabowo sekarang," pungkas Hendri. Dengan demikian, pembicaraan mengenai KDM menuju 2029 lebih tepat dipahami sebagai analisis tentang modal dan posisi politik, bukan sebagai kepastian mengenai pencalonannya. Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi mengenai siapa yang akan menjadi calon presiden maupun wakil presiden pada Pemilu 2029.

Artikel Terkait