JAKARTA – Pengamat politik Adi Prayitno mengungkapkan analisisnya mengenai langkah awal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam melakukan safari politik. Menurut Adi, PSI masih harus menghadapi tantangan besar jika ingin bersaing dengan kekuatan PDI Perjuangan (PDIP), terutama di daerah yang dikenal sebagai basis utama partai tersebut.
Kesulitan Menggeser Dominasi PDIP
Adi menekankan bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah yang akan menjadi ujian berat bagi PSI jika ingin mengubah dominasi PDIP. "Saya termasuk yang meyakini agak sulit mengalahkan PDIP di berbagai kandang, apalagi Jawa Tengah ataupun di berbagai tempat lain yang terasosiasi sebagai kekuatan politik PDIP," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kekuatan PDIP di daerah-daerah tersebut tidak terlepas dari keberadaan mesin politik dan basis pemilih yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
“Itulah yang saya kira memang harus dilihat secara angka-angka statistik dan ilmiah. Betapa sekalipun ada Pak Jokowi dengan PSI, agak sulit sebenarnya untuk bagaimana bisa mengalahkan kandang-kandangnya banteng itu, Pak,” tambahnya.
Pentingnya Bukti Kekuatan Politik
Adi menyatakan bahwa pihak-pihak yang ingin menantang PDIP harus terlebih dahulu menunjukkan kekuatan politiknya melalui perolehan suara. "Makanya kalau kawan-kawan PDIP itu kan, ya, lulus dulu lah kalau mau ngalahin PDIP, kan gitu," tegasnya. Ia menekankan bahwa analisisnya didasarkan pada data perolehan suara dari berbagai pemilu, bukan hanya melihat dinamika politik saat ini.
Adi kemudian membandingkan kinerja PDIP dalam Pemilu 2009 hingga 2024. Ia mencatat bahwa pada Pemilu 2009, meskipun PDIP tidak memenangkan Pemilu Presiden maupun Pemilu Legislatif, perolehan suara partai tersebut berada di kisaran 14,33 persen. "2009, ketika PDIP saat itu kalah Pilpres dan juga kalah Pileg kan, karena yang menang Pilpres itu SBY dan Demokrat. Berapa suara PDIP? Sekitar 14,33 persen," jelasnya.
Menurut Adi, terjadi peningkatan signifikan pada Pemilu 2014 ketika Jokowi diusung sebagai calon presiden oleh PDIP. "Bersama dengan Jokowi, 2014, naikkan suara PDIP yang 14,33 persen menjadi 18,5 persen," imbuhnya.
Adi menilai momentum 2014 menjadi periode penting dalam perjalanan elektoral PDIP. "Naik kurang lebih sekitar berapa tuh? 4 persen lah kurang lebih. 3,5-4 persen. Itu bersama dengan Pak Jokowi," terangnya. Namun, ia mencatat bahwa kenaikan tersebut tidak berlanjut dengan angka yang sama pada Pemilu 2019.
"Setelah itu, 2019, naiknya cuma satu sekian. Dari 18 koma menjadi 19 koma, kan. Coba lihat angkanya," tuturnya. Adi memahami angka-angka tersebut karena berkaitan dengan bidang yang diajarkannya, yakni pemilu dan perilaku pemilih.
Perubahan Hubungan Jokowi dan PDIP di 2024
Adi juga membahas Pemilu 2024, di mana hubungan politik Jokowi dan PDIP tidak lagi sejalan. Ia menyebutkan bahwa perolehan suara PDIP pada Pemilu Legislatif 2024 berada di angka sekitar 16,1 persen. "Di 2024 setelah Jokowi dan PDIP tidak bersama, coba, berapa suara PDIP? 16,1 persen. Dari 19 ke 16, Pak. Kurang lebih sekitar 2,9 persen," ungkapnya.
Walaupun terjadi penurunan suara, Adi berpendapat bahwa hal itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa mesin politik PDIP mengalami keruntuhan. "PDIP hilang suaranya setelah tidak lagi bersama dengan Jokowi. Ketika bersama dengan Jokowi, PDIP, masa indahnya adalah 2014," ujarnya.
Adi juga membedakan antara performa PDIP dalam Pilpres dan Pileg 2024. Ia menyatakan bahwa meskipun perolehan suara dalam Pilpres 2024 tidak sesuai harapan, PDIP masih mampu mempertahankan kekuatannya dalam kontestasi legislatif. "Jadi sekalipun ditinggal oleh Pak Jokowi, ya PDIP secara mesin, pileg khususnya, tidak terjun bebas," jelasnya. "Bahwa pilpresnya terjun bebas, ya dapat 16, ya. Tapi pilegnya. Kalau mau disimpulkan, ya PDIP menang di pilegnya, pilpresnya babak belur," tambahnya.
Dengan demikian, Adi melihat pola hubungan elektoral antara Jokowi dan PDIP terlihat jelas jika ditelusuri melalui data perolehan suara dari waktu ke waktu. "Itulah yang saya sebut kebersamaan Jokowi dengan PDIP, PDIP dengan Jokowi. Kan kelihatan sekali siklusnya," tutupnya.