Jakarta, CNN Indonesia -- Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan untuk kelompok usia 15 hingga 17 tahun tercatat hanya sebesar 56,04 persen. Ini menunjukkan bahwa meskipun tingkat inklusi keuangan mencapai 89,13 persen, pemahaman remaja mengenai produk keuangan masih kurang memadai.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menyatakan bahwa kondisi ini menjadi perhatian utama OJK dalam upaya memperkuat edukasi keuangan di kalangan remaja. OJK berencana untuk bekerja sama dengan kementerian terkait dalam mengintegrasikan materi literasi keuangan ke dalam kurikulum pendidikan di tingkat dasar, menengah, hingga perguruan tinggi.
Strategi Edukasi Keuangan yang Disesuaikan
Materi edukasi yang akan diberikan akan disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing kelompok usia. "Untuk pendidikan dasar dan menengah, kami akan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan untuk perguruan tinggi, kami akan berkolaborasi dengan kementerian terkait. Substansi materi edukasi akan berbeda, dan kami akan membahasnya bersama," jelas Dicky dalam konferensi pers mengenai hasil SNLIK 2026 yang berlangsung pada Senin (10/8).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan pentingnya memberikan edukasi keuangan sebelum generasi muda menjadi pengguna aktif produk dan layanan keuangan. "Intervensi harus dilakukan sebelum mereka menjadi pengguna aktif dari produk keuangan," ungkap Friderica.
Pendekatan yang Beragam untuk Setiap Kelompok
Friderica juga menambahkan bahwa pendekatan edukasi keuangan tidak dapat diterapkan secara seragam untuk seluruh kelompok masyarakat. OJK akan menerapkan pendekatan berdasarkan siklus kehidupan (life-cycle approach) dalam merancang program edukasi bagi generasi muda. "Pendekatan edukasi keuangan tidak bisa bersifat one-size-fits-all. Kita membutuhkan life-cycle approach terhadap literasi keuangan," ujarnya.
Secara keseluruhan, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia pada tahun 2026 mencapai 69,57 persen, mengalami peningkatan sebesar 2,93 poin persentase dibandingkan tahun 2025 yang hanya 66,64 persen. Indeks inklusi keuangan juga menunjukkan peningkatan menjadi 93,61 persen dari 92,74 persen pada tahun sebelumnya. Capaian ini telah melampaui target yang ditetapkan dalam RPJMN 2025-2029, dengan target literasi keuangan pada tahun 2029 sebesar 59,39 persen dan inklusi keuangan sebesar 93 persen.
"Target RPJMN 2025-2029 untuk tahun 2029 adalah 59,39 persen untuk literasi keuangan dan 93 persen untuk inklusi keuangan. Alhamdulillah, kami sudah melampaui target tersebut," kata Friderica.
Meskipun demikian, OJK menilai bahwa tingginya akses terhadap produk keuangan harus diimbangi dengan peningkatan pemahaman masyarakat. Hal ini penting karena tingkat inklusi keuangan yang tinggi belum tentu menunjukkan bahwa masyarakat telah memahami produk dan layanan keuangan yang mereka gunakan.