Update
Ekonomi

Tingkat Pengangguran Tertinggi di Indonesia Dikuasai Lulusan SMK

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa hingga Mei 2026, terdapat 7,22 juta pengangguran di Indonesia, dengan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mendominasi angka tersebut.

Rimba Amarta 05 August 2026 82 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat masih ada 7,22 juta orang pengangguran di Indonesia hingga Mei 2026. Mayoritas adalah lulusan SMA. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat masih ada 7,22 juta orang pengangguran di Indonesia hingga Mei 2026. Mayoritas adalah lulusan SMA. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim).

Jakarta, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,22 juta orang hingga bulan Mei 2026. Dari total tersebut, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menyumbang angka pengangguran tertinggi, yaitu 7,68 persen.

Perbandingan Pengangguran Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Sementara itu, pengangguran dengan tingkat pendidikan terendah, yaitu Sekolah Dasar (SD) ke bawah, mencatatkan angka terendah sebesar 2,31 persen. Lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) berada di urutan kedua dengan angka pengangguran sebesar 6,17 persen, diikuti oleh lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3 yang mencapai 6,09 persen.

Analisis Berdasarkan Jenis Kelamin dan Lokasi

Dari segi jenis kelamin, pengangguran pria tercatat sebesar 4,85 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan pengangguran wanita yang hanya 4,32 persen. Jika dilihat berdasarkan lokasi, pengangguran di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan di pedesaan, dengan angka masing-masing sebesar 5,54 persen dan 3,15 persen.

Secara keseluruhan, jumlah penduduk yang termasuk dalam angkatan kerja di Indonesia mencapai 155,41 juta orang, mengalami peningkatan sebanyak 497 ribu orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 148,19 juta orang di antaranya sudah bekerja, yang menunjukkan kenaikan sebesar 522 ribu orang, sedangkan sisanya masih menganggur.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik M Edy Mahmud menyampaikan, "Angkatan kerja yang tidak terserap pasar kerja adalah pengangguran, yaitu sebanyak 7,22 juta orang atau turun sekitar 24 ribu orang dibandingkan Februari 2026," dalam sebuah konferensi pers pada Rabu (5/8).

Lebih rinci, dari 148,19 juta orang yang bekerja, sebanyak 98,983 juta orang tercatat sebagai pekerja penuh waktu. Sementara itu, 38,41 juta orang bekerja paruh waktu dan 10,78 juta orang tergolong setengah menganggur, yaitu mereka yang bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu dan masih aktif mencari pekerjaan tambahan.

Artikel Terkait