Update
Demo BEM UI dan Stabilitas Ekonomi: Kritik, Dampak, dan Pertanyaan soal Arah Gerakan Mahasiswa Siswa di Bogor Diduga Keracunan Setelah Mengonsumsi Sate dari Makan Bergizi Gratis Gubernur Herman Deru Minta Pengawasan Ketat untuk Bantuan Penanganan Karhutla 5G: Pondasi untuk Masa Depan yang Siap Digital, Mendukung AI dan Produktivitas Langkah Pemerintah Menjaga Ketersediaan dan Stabilitas Harga Pangan Menjelang Nataru Pembangunan PLTN Dinilai Penting untuk Ketahanan Energi Indonesia IHSG Turun Hampir 2 Persen ke Level 5.266, 611 Saham Mengalami Penurunan Ribuan Akademisi Desak Gibran Mundur, Menurut Connie Bakrie Telkom University Mendorong Partisipasi Publik dalam Pencarian Maisha Aurelia Rafif Peningkatan Penggunaan AI di Kalangan UMKM Indonesia Mencapai 36,8 Persen Demo BEM UI dan Stabilitas Ekonomi: Kritik, Dampak, dan Pertanyaan soal Arah Gerakan Mahasiswa Siswa di Bogor Diduga Keracunan Setelah Mengonsumsi Sate dari Makan Bergizi Gratis Gubernur Herman Deru Minta Pengawasan Ketat untuk Bantuan Penanganan Karhutla 5G: Pondasi untuk Masa Depan yang Siap Digital, Mendukung AI dan Produktivitas Langkah Pemerintah Menjaga Ketersediaan dan Stabilitas Harga Pangan Menjelang Nataru Pembangunan PLTN Dinilai Penting untuk Ketahanan Energi Indonesia IHSG Turun Hampir 2 Persen ke Level 5.266, 611 Saham Mengalami Penurunan Ribuan Akademisi Desak Gibran Mundur, Menurut Connie Bakrie Telkom University Mendorong Partisipasi Publik dalam Pencarian Maisha Aurelia Rafif Peningkatan Penggunaan AI di Kalangan UMKM Indonesia Mencapai 36,8 Persen
Ekonomi

Trauma Keracunan Makanan di Berastagi, BGN Berjanji Perbaiki Pengelolaan MBG

Kepala Badan Gizi Nasional mengakui adanya dampak trauma pada siswa SMAN 1 Berastagi akibat keracunan makanan dan berkomitmen untuk memperbaiki pengelolaan MBG.

Yoga Samadhi 19 August 2026 79 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Kepala BGN Sudaryono mengakui trauma siswa SMAN 1 Berastagi akibat keracunan. Ia berjanji perbaikan tata kelola MBG untuk mencegah kejadian serupa. (FOTO:CNN Indonesia/Dela Naufalia).
Kepala BGN Sudaryono mengakui trauma siswa SMAN 1 Berastagi akibat keracunan. Ia berjanji perbaikan tata kelola MBG untuk mencegah kejadian serupa. (FOTO:CNN Indonesia/Dela Naufalia).

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengungkapkan bahwa siswa-siswi SMAN 1 di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, mengalami trauma setelah insiden keracunan makanan yang menimpa mereka. Ia menambahkan bahwa dampak trauma juga dirasakan oleh keluarga siswa tersebut. Oleh karena itu, Sudaryono menegaskan bahwa perbaikan dalam pengelolaan Makanan Berbasis Gizi (MBG) akan terus dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

“Saya tahu, saya paham yang trauma bukan hanya siswa siswinya, tapi juga ada keluarga traumatis dan saya memahami itu dan kita akan terus perbaiki. Kejadian ini tidak boleh terulang kembali,” ujar Sudaryono saat konferensi pers di kantor Kementerian PKP, Jakarta Selatan, pada Rabu (19/8).

Fokus pada Penanganan Korban Keracunan

Saat ini, BGN sedang berupaya memberikan pengobatan kepada siswa-siswi yang terpapar keracunan MBG di SMAN 1 Berastagi. Setelah proses pengobatan, BGN berencana untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta Kementerian Kesehatan untuk penanganan lebih lanjut pasca-pengobatan. Sudaryono menjelaskan bahwa keracunan tersebut disebabkan oleh kelalaian Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) dalam mengolah dan menyimpan bahan makanan, khususnya ikan, yang disajikan sebagai lauk.

“Dapurnya kami tutup untuk diinvestigasi. Kemudian kepala SPPG-nya kami copot. Karena ini kelihatan fatal, kami mempertimbangkan untuk kami lakukan pemecatan status PPPK-nya,” jelas Sudaryono. Ia juga menyatakan bahwa pihaknya berkoordinasi dengan kepolisian untuk menyelidiki insiden keracunan ini.

Pentingnya Mematuhi SOP

Sudaryono menyerahkan kepada pihak kepolisian untuk menentukan apakah ada unsur pidana dalam kasus keracunan ini. Ia menegaskan bahwa BGN akan bersikap transparan jika ditemukan pelanggaran hukum. Selain itu, ia mengingatkan kepada penerima MBG untuk mematuhi standar operasional prosedur (SOP) yang ada, termasuk larangan membawa pulang makanan. Menurutnya, beberapa kasus keracunan terjadi karena makanan dibawa pulang dan dimakan setelah beberapa waktu.

“Sisa atau barangkali ada yang ini dibawa pulang, dibagi ke beberapa anggota keluarga, dimakan jam 10 malam di hari itu. Itu kan berarti kan sudah lewat lama. Mungkin dilihatnya masih tampak baik gitu, tapi ternyata bakterinya sudah berkembang,” tutup Sudaryono.

Artikel Terkait