Karawang, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa pemerintah akan melakukan peninjauan terhadap lahan pertanian di seluruh Jawa dan daerah lainnya yang memiliki sumber air untuk dipasangi pompa. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menjaga produktivitas lahan di tengah ancaman kekeringan serta untuk memperluas area tanam.
“Dulu tanam dua kali, bisa tiga kali. Padahal ini dekat dari Jakarta, ini Jawa Barat. Nanti kita sisir, seluruh Jawa dan luar Jawa. Kita sisir, semua yang ada sumber air kita pasangkan pompa,” jelas Amran di Karawang, Jawa Barat, pada hari Senin, 31 Agustus.
Pompanisasi untuk Meningkatkan Produksi
Amran menambahkan bahwa pompanisasi telah dilakukan sebelumnya dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi beras. Ia mencatat bahwa pemasangan sekitar 100 ribu pompa sebelumnya mampu meningkatkan produksi gabah di Jawa hingga sekitar 2,8 juta ton.
Strategi serupa akan diterapkan kembali dengan memanfaatkan lahan yang memiliki potensi air, termasuk lahan yang sebelumnya belum ditanami. Untuk lahan yang mengalami kekeringan, pemerintah akan mengirimkan pompa untuk membantu pengairan. “Jadi ada dua, ada kita kirim pompa karena kekeringan, ada karena tidak bisa tanam. Seperti sekarang ada air, tuh coba air, melimpah air. Tapi di sini enggak bisa tanam. Nah, hari ini kita bisa tanami, itu sebelah sudah tanam,” tuturnya.
Target dan Dukungan untuk Pertanian
Amran menyampaikan bahwa laporan terakhir menunjukkan sekitar 30 ribu hektare lahan pertanian di seluruh Indonesia terdampak kekeringan. Angka tersebut dianggap relatif kecil dibandingkan dengan total luas tanam yang mencapai sekitar 11 juta hektare. “Ini terakhir kami dapat 30 ribu hektare dari total tanaman 11 juta (hektare). Aman kan?” ujarnya.
Kekeringan ini terjadi di berbagai wilayah, baik di Jawa maupun di luar Jawa, termasuk daerah-daerah yang dikenal sebagai lumbung pangan. Pemerintah mengklaim telah mengambil langkah untuk menangani lahan yang terdampak dengan mengirimkan pompa. Selain itu, lahan yang belum ditanami tetapi memiliki sumber air juga menjadi target untuk ditanami kembali. Untuk wilayah Jawa, Amran menargetkan bisa mencapai 100 ribu hektare.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai alat dan sarana produksi pertanian untuk mendukung program ini. Selain pompa, bantuan yang diberikan juga mencakup alat dan mesin pertanian seperti alat panen serta traktor roda dua dan roda empat. Amran menyebutkan bahwa pemerintah telah menyalurkan lebih dari 100 ribu pompa dan menargetkan tambahan sekitar 50 ribu pompa tahun ini, sehingga totalnya diperkirakan mencapai sekitar 150 ribu pompa.
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan benih yang lebih tahan terhadap kekeringan serta pengoptimalan saluran irigasi primer, sekunder, dan tersier. “Intinya kita melakukan pompanisasi, kemudian benih yang tahan kekeringan, ini kemudian alat mesin pertanian kita drop kirim dari pusat,” ungkap Amran.
Di Karawang, Amran menargetkan indeks pertanaman (IP) dapat meningkat dari dua kali tanam menjadi tiga kali tanam. Ia menyebutkan terdapat sekitar 3.000 hektare lahan yang dapat didorong untuk ditanami dengan dukungan pompa. Jika lahan tersebut menghasilkan sekitar tujuh ton per hektare, tambahan pendapatan petani diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp136 miliar dengan asumsi harga gabah Rp6.500 per kilogram.
Amran juga memastikan bahwa pemerintah terus memantau kondisi stok beras nasional di tengah situasi kekeringan ini. Berdasarkan perhitungan pemerintah, pasokan beras masih mencukupi, termasuk dengan memperhitungkan produksi yang masih ada di lahan, stok di gudang, serta panen yang akan datang. “Jadi aman. Kemudian kita hitung juga masalah kekeringan kan? Kekeringan ini, El Nino Godzilla, ini insyaallah pangan kita aman, khususnya beras,” tuturnya.