Yunarto Wijaya, yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, berpendapat bahwa Presiden Prabowo Subianto memiliki visi dan imajinasi yang unik dalam membangun Indonesia. Ia menegaskan bahwa kebijakan yang diterapkan oleh Prabowo tidak hanya merupakan kelanjutan dari kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi), melainkan mencerminkan pemikiran yang telah lama diyakininya.
Yunarto menjelaskan bahwa kebijakan yang diambil Prabowo selama dua tahun pemerintahannya sejalan dengan ide-ide yang tertuang dalam bukunya yang berjudul "Paradoks Indonesia dan Solusinya." Ia menyatakan, "Kalau dari sisi substansi kebijakan, Prabowo kita baca bukunya Paradoks Indonesia dan Solusinya. Itu buku yang paling menggambarkan isi kepalanya." Menurutnya, kebijakan yang dijalankan Prabowo selama dua tahun sesuai dengan keyakinannya tentang cara membangun negara.
Fokus Kebijakan Prabowo
Beberapa fokus utama dari kebijakan Prabowo mencakup ketahanan pangan, ketahanan energi, dan penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Yunarto menilai bahwa agenda tersebut bertujuan untuk membantu Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah serta mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam. Ia menjelaskan, "Ketahanan pangan, ketahanan energi, alutsista dalam konteks melepaskan middle income trap, melepaskan kutukan negara tropis yang hidup hanya dari sumber daya alam."
Perubahan Ekspektasi di Kalangan Pemilih Jokowi
Walaupun Yunarto mengakui konsistensi Prabowo dalam menerapkan gagasannya, ia juga mencatat adanya perubahan ekspektasi di kalangan pemilih Jokowi. Banyak dari mereka yang berharap bahwa kemenangan Prabowo dalam Pilpres 2024 akan membawa kesinambungan dalam kebijakan yang mirip dengan era Jokowi. "Tapi yang menurut saya berubah adalah terutama ya segmen pemilih Jokowi yang merasa continuity akan terbangun seperti apa yang dijalankan oleh Jokowi ketika Prabowo terpilih," ujarnya.
Yunarto menambahkan bahwa banyak pemilih yang awalnya membayangkan pemerintahan Prabowo akan mengikuti arah kebijakan yang telah ditetapkan oleh Jokowi. "Karena imajinasinya adalah pemerintahan Prabowo-Jokowi," katanya. Namun, ia menegaskan bahwa Prabowo dan Jokowi memiliki pandangan yang berbeda tentang masa depan Indonesia, yang menyebabkan banyak orang terkejut dengan arah kebijakan yang diambil saat ini.
Yunarto juga berpendapat bahwa kelompok yang paling terkejut dengan kebijakan Prabowo adalah mereka yang sebelumnya berharap adanya keberlanjutan dari kepemimpinan Jokowi. "Itu yang menyebabkan orang kaget. Orang yang paling kaget terutama dengan kebijakan dua tahun ini menurut saya adalah pecinta Jokowi yang tadinya merasa Prabowo akan seperti Jokowi atau akan membuat keberlanjutan seperti yang dimaui Jokowi atau seperti yang dimaui oleh Jokowi. Dan tidak terjadi sekarang," jelasnya.
Kebijakan Anggaran sebagai Indikator
Perbedaan dalam arah kebijakan antara Prabowo dan Jokowi juga terlihat dari kebijakan anggaran pemerintah. Yunarto berpendapat bahwa alokasi anggaran dalam APBN 2025 dan 2026 dapat menjadi indikator untuk menentukan program-program prioritas pemerintahan Prabowo. Ia menyatakan, "Dan kita bisa lihat, yang enggak bisa kita bantah, dari anggaran prioritas, Mas, apa yang jadi skala prioritas dari APBN 2025, 2026. Dia menunjukkan bahwa saya adalah Prabowo. Saya bukan penerus Jokowi."
Yunarto juga membandingkan situasi politik saat ini dengan kemungkinan yang terjadi jika Anies Baswedan terpilih sebagai presiden. Ia berpendapat bahwa perubahan kebijakan di bawah pemerintahan Prabowo mungkin tidak akan menimbulkan kejutan sebesar sekarang jika Anies yang terpilih. "Kalau mau ekstrem, kalau kita mencoba berimajinasi tentang kalau Anies yang menang kemarin, jangan-jangan perubahan dan kekagetan yang terjadi tidak akan sebesar ketika Prabowo yang sekarang kemudian jadi presiden," ungkapnya.
Ia menilai bahwa arah kebijakan Prabowo menunjukkan perubahan yang lebih signifikan dibandingkan dengan perubahan yang ditawarkan Anies selama kampanye. "Jadi dia lebih perubahan dibandingkan Anies Baswedan yang mengusung perubahan itu," tutupnya.