Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Sabtu (5/9) di Selat Sunda telah menyebabkan dampak yang meluas, tidak hanya di sekitar gunung tetapi juga di berbagai daerah seperti Banten, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan. Abu vulkanik yang dihasilkan telah mengganggu transportasi udara, dengan lebih dari 2.900 penerbangan dan sekitar 341 ribu penumpang terpengaruh hingga 7 September.
Dampak pada Sektor Ekonomi
Ekonom dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyatakan bahwa dampak ekonomi dari erupsi ini tidak terbatas pada sektor penerbangan saja. Sektor pariwisata, hotel, restoran, transportasi, agen perjalanan, perdagangan ritel, jasa acara, dan UMKM di destinasi wisata adalah yang paling cepat merasakan dampaknya. Pembatalan perjalanan mengakibatkan hilangnya transaksi harian. "Jika wisatawan menunda perjalanan, tingkat hunian turun, pesanan makanan berkurang, armada wisata menganggur, dan pekerja harian kehilangan pendapatan," ujarnya.
Usaha yang memiliki biaya tetap tinggi dan bergantung pada arus kas harian menjadi sangat rentan. Gangguan yang berlangsung beberapa hari dapat berpotensi menjadi masalah likuiditas bagi mereka.
Gangguan Logistik dan Inflasi
Dari sisi logistik, gangguan muncul akibat pembatalan penerbangan, perubahan rute, dan penumpukan barang pada moda transportasi alternatif. Barang-barang bernilai tinggi dan mudah rusak, seperti obat-obatan dan komponen manufaktur, menjadi yang paling terpengaruh. "Ketika ruang udara ditutup, barang berpindah ke jalur darat atau laut, yang menyebabkan waktu tempuh bertambah dan biaya penyimpanan meningkat," jelas Syafruddin.
Jika gangguan berlangsung lebih lama, biaya logistik akan meningkat, dan usaha kecil akan paling cepat merasakan dampaknya karena memiliki modal kerja dan kapasitas logistik yang terbatas. Pekerja harian, pengemudi, pedagang kecil, dan pelaku usaha lainnya di sektor pariwisata juga menjadi kelompok yang paling rentan.
Syafruddin menekankan pentingnya melihat kerugian dari kehilangan pendapatan masyarakat dan pelaku usaha, bukan hanya kerusakan aset. Meskipun gangguan transportasi tidak serta merta memicu inflasi nasional, kenaikan harga lokal dan komoditas tertentu tetap perlu diwaspadai.
Jika gangguan berlangsung singkat, harga cenderung kembali normal. Namun, penutupan yang berulang dapat menyebabkan perusahaan menggunakan jalur yang lebih mahal dan menambah stok, yang berpotensi diteruskan kepada konsumen.
Dalam jangka pendek, dampak nasional diperkirakan masih terbatas jika gangguan cepat mereda. Namun, efek sektoral dan regional bisa cukup signifikan. "Ancaman terbesar bagi pertumbuhan bukan hanya satu episode erupsi, tetapi kegagalan untuk menjadikan kejadian berulang sebagai pelajaran institusional," tambahnya.
Untuk mencegah dampak yang lebih luas, Syafruddin mendorong pemerintah untuk mengintegrasikan informasi dari berbagai lembaga terkait dan mempersiapkan jalur transportasi alternatif. Dukungan sementara juga perlu diberikan kepada UMKM dan pekerja informal yang terdampak.
Sementara itu, Analis Senior dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menambahkan bahwa sektor pariwisata, transportasi, logistik, perdagangan, dan perikanan juga akan merasakan dampak dari erupsi ini. "Pariwisata sangat sensitif karena wisatawan cenderung menunda perjalanan ketika akses dan keamanan terganggu," ujarnya.
Industri manufaktur juga berpotensi terdampak, terutama yang bergantung pada pasokan bahan baku dengan sistem just-in-time. Ronny mengingatkan bahwa efek dari erupsi perlu dilihat dari multiplier effect, di mana satu penerbangan yang dibatalkan tidak hanya merugikan maskapai tetapi juga mengurangi aktivitas di sektor lain.
Kelompok yang paling rentan adalah masyarakat dan pelaku usaha di wilayah terdampak, termasuk pekerja harian yang kehilangan pendapatan akibat gangguan aktivitas. Ronny juga menekankan bahwa gangguan penerbangan dapat menghambat pengiriman barang dan mobilitas tenaga kerja.
Gangguan berkepanjangan berpotensi mendorong inflasi karena perusahaan harus menggunakan jalur alternatif yang lebih mahal. Meskipun begitu, Ronny menegaskan bahwa erupsi tidak otomatis menyebabkan inflasi nasional yang signifikan. Dalam jangka pendek, dampak yang lebih mungkin dirasakan adalah kenaikan harga lokal pada barang tertentu.
Secara keseluruhan, dampak terhadap pertumbuhan ekonomi diperkirakan terbatas jika wilayah dan durasi gangguan kecil. Namun, gangguan yang berkepanjangan dapat menekan konsumsi, investasi, perdagangan, dan produktivitas. Ronny mendorong pemerintah untuk fokus menjaga mobilitas, rantai pasok, dan daya beli masyarakat yang terdampak.
Dengan demikian, penting bagi pemerintah untuk mempersiapkan jalur transportasi alternatif dan memberikan dukungan yang terarah kepada usaha dan masyarakat yang kehilangan pendapatan.