Update
Rahasia Pola yang Terus Diperdebatkan: Benarkah Kemandirian Ekonomi Indonesia Selalu Menghadapi Tekanan Asing? Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia Rahasia Pola yang Terus Diperdebatkan: Benarkah Kemandirian Ekonomi Indonesia Selalu Menghadapi Tekanan Asing? Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia
News

Ibam Bantah Tuntutan 15 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook

Ibrahim Arief alias Ibam menegaskan bahwa tuntutan 15 tahun penjara yang dijatuhkan kepadanya tidak didukung oleh bukti yang ada dalam persidangan.

Bima Candrakumara 22 April 2026 11 pembaca liputan6.com liputan6.com
Ibam Bantah Tuntutan 15 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
liputan6.com

Terdakwa Ibrahim Arief, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibam, mengungkapkan bahwa tuntutan hukuman 15 tahun penjara yang diajukan dalam kasus Chromebook tidak didasarkan pada bukti yang terungkap selama persidangan. Pernyataan ini disampaikan saat sidang berlangsung, di mana Ibam merasa dirugikan oleh tuduhan yang dialamatkan kepadanya.


Ibam menegaskan bahwa selama proses hukum, tidak ada bukti yang menunjukkan keterlibatannya dalam kasus tersebut. Ia mengklaim bahwa semua argumen yang diajukan oleh jaksa penuntut tidak sesuai dengan fakta-fakta yang ada di lapangan. Dalam penjelasannya, Ibam berharap agar keadilan dapat ditegakkan dan bahwa semua bukti yang relevan harus dipertimbangkan dengan seksama.


Kasus ini menarik perhatian publik, mengingat tuntutan yang cukup berat dan dampaknya terhadap kehidupan Ibam. Dengan adanya pernyataan tersebut, diharapkan akan ada perkembangan lebih lanjut dalam proses hukum yang sedang berlangsung.


Tags: Belum ada tag.

Artikel Terkait