Update
Ketegangan Seputar Ijazah Jokowi dan Gibran, Bambang Tri Mulyono: Ada Ancaman bagi Gibran di Pilpres 2029 Dukungan Gus Lilur untuk Reformasi PBNU oleh Gus Kikin Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM Ketegangan Seputar Ijazah Jokowi dan Gibran, Bambang Tri Mulyono: Ada Ancaman bagi Gibran di Pilpres 2029 Dukungan Gus Lilur untuk Reformasi PBNU oleh Gus Kikin Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM
Ekonomi

Inovasi AI Membantu Nelayan Cilacap Dalam Menentukan Waktu Melaut

Nelayan tradisional di Cilacap menghadapi tantangan dalam menentukan waktu dan lokasi melaut. Dengan teknologi berbasis kecerdasan buatan, mereka kini dapat meningkatkan efisiensi dan hasil tangkapan.

Rimba Amarta 30 August 2026 54 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Foto: Arsip Pertamina
Foto: Arsip Pertamina

Di Cilacap Selatan, Jawa Tengah, para nelayan tradisional sering kali menghadapi dilema ketika memutuskan untuk melaut. Sebelum berangkat, mereka harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti bahan bakar, waktu, tenaga, dan peluang untuk mendapatkan hasil tangkapan. Namun, tidak jarang keputusan tersebut berujung pada kerugian, di mana banyak nelayan kembali ke darat setelah mengeluarkan biaya operasional yang tinggi tanpa hasil yang memadai. Data dari MetaSeaco menunjukkan bahwa sekitar 41 persen dari 6.806 perjalanan melaut yang tercatat mengalami kerugian.

Peran Teknologi dalam Meningkatkan Hasil Tangkapan

Masalah ini mendorong pengembangan Iwak, sebuah teknologi yang memanfaatkan kecerdasan buatan dan data satelit untuk membantu nelayan dalam menentukan waktu dan lokasi melaut. Teknologi ini memberikan informasi mengenai kondisi laut, jenis ikan yang dapat ditangkap, serta titik koordinat yang potensial untuk menangkap ikan. CEO MetaSeaco, Catur Prasetyo Nugroho, menjelaskan, "Dari rumah, nelayan sudah bisa mengetahui apakah hari itu sebaiknya melaut atau tidak. Jika melaut, teknologi ini juga memberikan rekomendasi titik koordinat dan waktu terbaik untuk menangkap ikan."

Saat ini, 15 perahu nelayan di Cilacap telah menggunakan teknologi Iwak, yang terbukti mampu menekan biaya operasional hingga 23 persen dan meningkatkan pendapatan rata-rata nelayan sebesar 68 persen. Selain itu, jumlah perjalanan melaut yang merugi juga menurun dari 41 persen menjadi sekitar 30 persen. Prediksi hasil tangkapan menunjukkan akurasi yang menjanjikan, seperti untuk ikan tenggiri batang mencapai 91 persen, ikan bawal putih 85 persen, dan ikan layur 70 persen. Dalam salah satu perjalanan, nelayan yang mengikuti koordinat dengan skor prediksi tinggi bahkan berhasil meraih pendapatan sekitar Rp3 juta.

Kolaborasi untuk Memperluas Manfaat Teknologi

Inovasi ini berpotensi untuk menjangkau lebih banyak desa melalui kolaborasi dengan Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina. Teknologi MetaSeaco akan dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung masyarakat di sekitar wilayah operasi Pertamina. Kerja sama ini merupakan bagian dari Festival Desa Energi Berdikari Pertamina 2026 yang diadakan di Grha Pertamina, Jakarta. Pertamina berkomitmen untuk menjadikan DEB sebagai tempat pemanfaatan energi baru terbarukan serta ruang inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto, menyatakan, "Semakin banyak teknologi tepat guna yang bisa diterapkan, tentu akan semakin bagus. Harapannya, dampak dari 269 Desa Energi Berdikari yang kami miliki bisa semakin besar."

Selain MetaSeaco, ada juga inovasi dari Terangin, startup energi terbarukan yang termasuk dalam Top 3 Pertamuda 2025 kategori Energy Future, yang akan diterapkan di DEB Juntinyuat, Indramayu. Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah penghalau burung berbasis laser otomatis untuk membantu petani mengurangi gangguan hama. CEO Terangin, Muhammad Hanif, menyampaikan harapannya bahwa teknologi ini dapat meningkatkan produktivitas pertanian.

Di DEB Nagari Katapiang, Pertamina bekerja sama dengan PT Global Vision Tech untuk mengembangkan rantai nilai komoditas kelapa, yang mencakup peningkatan kapasitas masyarakat serta pengolahan dan penciptaan produk bernilai tambah. Pertamina menekankan bahwa inovasi seharusnya tidak berhenti pada tahap purwarupa atau kompetisi, tetapi harus dapat diimplementasikan di masyarakat.

Rudi menambahkan, "Melalui Festival Desa Energi Berdikari 2026, Pertamina mendorong semakin banyak inovasi karya anak bangsa untuk menemukan ruang implementasinya di tengah masyarakat. Sebab, ketika energi, teknologi, dan inovasi bertemu dengan kebutuhan masyarakat, yang tumbuh bukan hanya produktivitas, tetapi juga kemandirian."

Artikel Terkait