Update
Ketegangan Seputar Ijazah Jokowi dan Gibran, Bambang Tri Mulyono: Ada Ancaman bagi Gibran di Pilpres 2029 Dukungan Gus Lilur untuk Reformasi PBNU oleh Gus Kikin Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM Ketegangan Seputar Ijazah Jokowi dan Gibran, Bambang Tri Mulyono: Ada Ancaman bagi Gibran di Pilpres 2029 Dukungan Gus Lilur untuk Reformasi PBNU oleh Gus Kikin Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM
Ekonomi

JP Morgan Perkirakan IHSG Mencapai 7.000 pada Akhir 2026

J.P. Morgan memproyeksikan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menembus angka 7.000 di akhir tahun 2026, meskipun saat ini mengalami penurunan.

Kalula Putri 04 September 2026 32 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
J.P. Morgan memprediksi IHSG akan tembus 7.000 akhir 2026, didukung oleh perbaikan sentimen pasar dan posisi investor yang rendah. (FOTO:CNNIndonesia/Adi ibrahim).
J.P. Morgan memprediksi IHSG akan tembus 7.000 akhir 2026, didukung oleh perbaikan sentimen pasar dan posisi investor yang rendah. (FOTO:CNNIndonesia/Adi ibrahim).

J.P. Morgan, perusahaan jasa keuangan global, memperkirakan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mencapai level 7.000 pada akhir tahun 2026, meskipun sepanjang tahun ini mengalami tren penurunan. Benny Kurniawan, Kepala Riset Ekuitas Indonesia di J.P. Morgan, menyatakan bahwa optimisme tersebut didorong oleh potensi perbaikan sentimen pasar serta posisi investor asing dan domestik yang saat ini tergolong rendah.

"Tim J.P. Morgan masih memperkirakan target JCI (IHSG) pada Desember berada di 7.000," ungkap Benny dalam sebuah media briefing di Jakarta pada Kamis, 3 September.

Posisi Investor dan Aksi Jual

Benny menjelaskan bahwa investor asing telah banyak melakukan aksi jual, sementara posisi kas reksa dana saham domestik masih cukup tinggi. Hal ini dianggap memberikan peluang bagi investor untuk kembali berinvestasi di pasar saham Indonesia.

"Seperti yang kita tahu asing sudah jualan dan kalau kita lihat fund fact sheet dari reksadana-reksadana ekuitas di Indonesia, sebenarnya cash level mereka juga cukup tinggi. Jadi ada banyak amunisi untuk beli di market kita tahun ini," tambahnya.

Proyeksi Laba Emiten dan Faktor Eksternal

Ia juga menyoroti bahwa prospek laba emiten masih terlihat positif. Konsensus analis memperkirakan pertumbuhan laba emiten sekitar 9 persen pada tahun 2027, yang akan didukung oleh belanja pemerintah dan investasi.

"Untuk ke depannya di tahun 2027, konsensus dari analis memperkirakan earnings itu tumbuh sekitar 9 persen tahun depan. Dan ini juga pasti ditopang oleh pengeluaran pemerintah, government spending lagi, dan juga investment," jelas Benny.

Di sisi lain, Benny menilai bahwa pelemahan IHSG sepanjang tahun ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Kenaikan harga minyak, suku bunga yang masih tinggi, serta imbal hasil obligasi negara maju yang meningkat dianggap mengurangi daya tarik pasar Indonesia di mata investor global.

Benny juga memberikan pandangannya mengenai rencana pembukaan batas harga minimum saham hingga Rp1, yang tidak serta merta akan mengubah pasar modal Indonesia menjadi pasar penny stocks seperti di Amerika Serikat. Ia berpendapat bahwa penghapusan floor price atau batas bawah harga saham Rp50 justru berpotensi meningkatkan likuiditas dan transparansi pasar.

"Saya rasa tidak seperti itu. Masalah MSCI itu apa concern-nya? Pertama, mereka tidak bisa mereplikasi indeksnya. Jadi, saham apa pun yang ditambah atau dihapus, itu tidak bisa dieksekusi pada rebalancing date dengan baik," kata Benny.

Ia menambahkan bahwa mekanisme pasar negosiasi atau over-the-counter (OTC) tetap tersedia bagi investor. Oleh karena itu, penghapusan batas harga minimum diharapkan dapat memberikan sentimen yang lebih positif bagi pasar.

"Banyak investor sekarang merasa mungkin dengan adanya Rp50 itu ada downside-nya. Tapi sebenarnya tidak seperti itu, karena ada mekanisme pasar negosiasi yang OTC. Jadi, kalau aturan Rp50 ini dilepas, menurut saya sentimennya seharusnya lebih positif," ujarnya.

Benny juga mengingatkan bahwa meskipun penghapusan floor price memiliki risiko penurunan harga, mekanisme pasar yang lebih terbuka dapat meningkatkan minat investor asing. "Investor asing menurut saya seharusnya menangkap ini lebih positif. Karena kalau kita lihat pasar modal di luar, tidak ada floor price. Jadi, kalau misalnya Rp50 ini turun, seharusnya mekanisme pasar lebih berjalan. Investor yang mau beli tidak takut tidak bisa jual," tutup Benny.

Artikel Terkait