Warga Biak Numfor, Papua, masih merasakan kekhawatiran terkait dengan kemunculan titik api baru yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam situasi ini, pemerintah diharapkan lebih aktif dalam memberikan informasi terkini mengenai karhutla kepada masyarakat setempat.
Bantuan berupa alat pemadam yang mudah dibawa melalui jalur pegunungan sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pemadaman kebakaran di daerah yang dikenal memiliki banyak hutan ini. "Kami sangat mengapresiasi penanganan karhutla oleh berbagai pihak, tetapi jujur saja hingga saat ini kami yang bermukim di Biak Numfor masih terus diselimuti kekhawatiran karena titik api baru kerap muncul," ungkap Yohana, seorang warga yang tinggal di Taman Mandow, Samofa, Biak Numfor.
Asap Tebal Mengganggu Aktivitas Sehari-hari
Yohana juga menyatakan bahwa kabut asap masih terasa oleh warga, terutama pada malam hari, dan semakin tebal menjelang tengah malam. "Yang membuat heran, titik api muncul dan kabut asap yang menebal itu muncul di malam hari. Beberapa warga ada yang pernah melihat oknum warga melempar kertas yang telah dibakar. Pernah juga ada temuan potongan kayu terbakar yang dicurigai dimaksudkan agar api merembet dan membesar," jelasnya.
Dia menambahkan bahwa karhutla di Biak Numfor telah berlangsung selama sepekan dan mengganggu aktivitas masyarakat. Kegiatan belajar mengajar bahkan terpaksa diliburkan akibat asap tebal. "Ketika tidur di kamar pun kami bahkan menggunakan masker ketika kabut asap terasa menebal," tuturnya.
Pentingnya Kesadaran dan Tindakan Pemerintah
Yohana berharap pemerintah lebih peka terhadap isu karhutla di Biak Numfor, mengingat banyak wilayah permukiman yang berdekatan dengan hutan. "Biak Numfor ini pulau yang sangat kecil dan isinya hutan. Minggu ini mungkin lebih dari setengah bagiannya terbakar. Bisa habis hutan ini bila dibiarkan terbakar yang entah tujuannya apa," ujarnya. Dia juga menekankan pentingnya sosialisasi yang lebih baik mengenai titik api dan informasi terkini lainnya.
Lebih lanjut, Yohana menyebutkan bahwa ada beberapa tim profesional yang terlibat dalam penanganan karhutla, termasuk TNI, Polres, SAR, BPBD, dan BMKG. Namun, mereka sering kali menghadapi kendala terkait alat pemadam yang terbatas untuk menjangkau titik api. "Kami, sih, berpikir idealnya pemadaman bisa menggunakan helikopter (waterbom), tetapi kondisi tersebut kayaknya belum memungkinkan. Kami berharap adanya bantuan untuk alat pemadaman, minimal APAR yang mudah dibawa naik ke gunung untuk memadamkan api," tambahnya.
Selama sepekan terakhir, karhutla di Biak telah terjadi berkali-kali. Meskipun tim terpadu dari TNI-Polri, BPBD, dan Basarnas telah berupaya memadamkan kebakaran pada Rabu (26/8/2026), titik api baru kembali muncul di Distrik Yandedori. Kondisi geografis Biak menjadi tantangan tersendiri bagi tim pemadam, ditambah dengan ancaman bom sisa dari Perang Dunia II yang masih ada di kawasan hutan.
Dalam upaya meminimalkan terjadinya karhutla, Bupati Biak Numfor, Markus Oktovianus Mansnembra, mengimbau masyarakat untuk menghentikan aktivitas pembukaan lahan perkebunan dengan cara membakar. Pihak kepolisian juga gencar melakukan sosialisasi mengenai larangan pembakaran lahan.