Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menginformasikan bahwa sebanyak 2.496 hektare lahan di Papua Barat mengalami kebakaran. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa situasi kebakaran hutan dan lahan di Papua Barat telah relatif terkendali. Namun, masih terdapat titik asap yang terdeteksi di area tersebut.
Titik Panas dan Penanganan Kebakaran
Berton menjelaskan bahwa terdapat 20 titik panas yang teridentifikasi, dengan 5 titik api yang terpantau, dan jarak pandang di lokasi kebakaran berkisar antara 7 hingga 10 kilometer. Penanganan karhutla di Papua Barat dilakukan melalui operasi udara, sementara operasi darat dihentikan sementara karena keterbatasan akses.
Operasi Udara dan Tantangan yang Dihadapi
Upaya penanganan kebakaran dilakukan dengan metode water bombing menggunakan tiga helikopter. Total air yang telah digunakan dalam operasi ini mencapai 662.000 liter. Meskipun demikian, operasi udara menghadapi kendala akibat vegetasi yang tinggi dan lebat, sehingga hanya satu helikopter yang dapat beroperasi pada satu waktu. Berton menambahkan bahwa tower bandara Babo tidak dapat mencakup area operasi yang diperlukan.
Selain itu, keterbatasan stok bahan bakar avtur juga menjadi masalah dalam pelaksanaan operasi udara, yang mengakibatkan kegiatan tersebut tidak dapat dilakukan secara optimal. Berton menegaskan bahwa BNPB akan mencari berbagai solusi agar stok avtur dapat tersedia untuk mendukung operasi selanjutnya.