JAKARTA - Dalam persiapan menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Aceh yang dijadwalkan pada 19 Agustus 2026, drh. Nurdiansyah Alasta, yang merupakan anggota DPRA dan kader Partai Demokrat, mengimbau semua kader untuk tetap bersatu, memperkuat kekompakan, serta mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh partai. Nurdiansyah menegaskan bahwa Musda adalah forum demokrasi internal yang harus dilaksanakan dengan semangat kekeluargaan, saling menghormati, dan kedewasaan politik.
Pentingnya Menghormati Proses Musda
Dia menambahkan bahwa perbedaan pandangan dan pilihan merupakan hal yang wajar, tetapi tidak seharusnya mengurangi solidaritas di dalam Partai Demokrat. "Partai Demokrat telah memiliki aturan main Musda yang jelas, terbuka, dan demokratis. Seluruh tahapan telah diatur melalui mekanisme organisasi sehingga setiap kader memiliki kewajiban untuk menghormati proses yang sedang berjalan," ungkap Nurdiansyah dalam keterangan resminya pada Senin (3/7/2026).
Nurdiansyah juga menekankan keyakinannya bahwa Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan mengambil keputusan terbaik untuk kepentingan organisasi, berdasarkan aturan partai dan berbagai pertimbangan yang objektif. "Saya meyakini Ketum AHY akan mengambil keputusan yang terbaik demi masa depan Partai Demokrat Aceh. Sebagai kader, tugas kita adalah menjaga persatuan, menghormati mekanisme organisasi, serta menerima setiap keputusan partai dengan penuh tanggung jawab," tambahnya.
Menjaga Etika Politik dan Fokus pada Organisasi
Dia juga mengingatkan agar menjelang Musda tidak ada pihak yang menyebarkan fitnah, membangun opini yang menyesatkan, atau mengatasnamakan Ketua Umum untuk memengaruhi sikap kader. "Marilah kita menjaga etika politik. Jangan menyebarkan fitnah, jangan memecah belah sesama kader, dan jangan ada pihak yang mengatasnamakan atau menjual nama Ketua Umum untuk kepentingan tertentu. Jika ada keputusan resmi, tentu akan disampaikan melalui mekanisme organisasi yang sah," tegasnya.
Nurdiansyah menekankan bahwa seluruh energi kader seharusnya tidak dihabiskan untuk memperuncing perbedaan, melainkan diarahkan pada penguatan organisasi dan pengabdian kepada masyarakat. Dia menjelaskan bahwa Musda hanya berlangsung dalam waktu singkat, tetapi perjuangan untuk membesarkan Partai Demokrat adalah tugas bersama untuk jangka panjang. "Siapa pun yang nantinya mendapat amanah memimpin, seluruh kader harus kembali bersatu, menjalankan roda organisasi dengan baik, memperkuat konsolidasi hingga ke akar rumput, serta fokus pada kerja-kerja partai yang bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa kekuatan Partai Demokrat tidak ditentukan oleh siapa yang menang dalam Musda, melainkan oleh kemampuan seluruh kader untuk menjaga persatuan dan bekerja sama. Nurdiansyah mengingatkan agar tidak menghabiskan energi untuk saling menyerang. "Habiskan energi kita untuk membangun partai, memenangkan hati rakyat, dan memperkuat kepercayaan masyarakat kepada Partai Demokrat Aceh," tegasnya.
Dengan semangat kebersamaan, Nurdiansyah optimis bahwa Partai Demokrat Aceh akan semakin kuat dan mampu meraih kemenangan yang lebih besar dalam agenda politik mendatang. Dia juga mengajak seluruh kader untuk menjadikan Musda sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan dan memperkokoh soliditas partai. "Persaingan boleh berakhir pada Musda, tetapi persaudaraan sebagai kader Partai Demokrat harus tetap terjaga selamanya. Mari kita sukseskan Musda secara bermartabat, hormati keputusan Ketua Umum, lalu bergandengan tangan untuk membawa Partai Demokrat Aceh semakin maju, semakin dipercaya rakyat, dan meraih kemenangan bersama," tutup Nurdiansyah.