JAKARTA - Kini, masyarakat dapat melakukan pengecekan pengelompokan tingkat kesejahteraan atau desil secara mandiri dengan mengunjungi situs resmi Badan Pusat Statistik (BPS). Bagi yang ingin mengetahui kategori kesejahteraannya, terdapat beberapa langkah verifikasi yang dapat dilakukan secara daring.
Langkah pertama adalah mengakses situs dtsen-form.bps.go.id melalui peramban internet. Setelah itu, pengguna perlu mencari dan memilih menu "Lainnya" yang ada di halaman utama. Proses dilanjutkan dengan memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) serta kode Captcha untuk memulai pengecekan data awal.
Apabila NIK terdaftar dalam sistem, pengguna dapat menutup notifikasi yang muncul dan mengklik tombol "Cek Desil". Selanjutnya, sistem akan meminta verifikasi tambahan dengan memasukkan tanggal lahir dan kode Captcha lagi. Langkah berikutnya adalah menekan tombol "Cek Data" untuk kedua kalinya, sehingga informasi mengenai posisi desil ekonomi pemilik NIK akan langsung ditampilkan di layar.
Viralnya Fenomena Cek Desil
Fenomena pengecekan desil ini sempat menjadi viral di media sosial setelah beredarnya informasi mengenai kategori pengeluaran per kapita yang membagi masyarakat ke dalam kelompok miskin ekstrem hingga superkaya. Namun, informasi yang beredar di media sosial mengenai Desil 1 sebagai kelompok Miskin Ekstrem, yang memiliki pengeluaran di bawah Rp500 ribu per bulan, dan Desil 10 sebagai kelompok superkaya dengan pengeluaran di atas Rp3 juta per bulan, tidak sesuai dengan pengelompokan resmi yang ditetapkan oleh BPS.
BPS menegaskan bahwa pengelompokan tersebut tidak hanya didasarkan pada angka pengeluaran per kapita per bulan. "Desil harus dibaca sebagai posisi relatif, bukan sebagai label kelas ekonomi," jelas Direktur Statistik Kesejahteraan Rakyat BPS, Budi Setiawan.
Pemeringkatan dan Klasifikasi Desil
Secara teknis, pemeringkatan dilakukan dengan mengurutkan seluruh keluarga berdasarkan estimasi tingkat kesejahteraan. Populasi dibagi menjadi sepuluh kelompok, masing-masing mencakup 10 persen keluarga. Desil 1 mewakili 10 persen keluarga dengan tingkat kesejahteraan relatif terendah, sementara Desil 10 adalah kelompok dengan posisi relatif tertinggi.
Budi juga menambahkan bahwa sebaiknya kelompok Desil 2 hingga Desil 9 tidak diberikan label sederhana seperti "miskin", "menengah", atau "kaya". Ia menjelaskan bahwa desil bukanlah klasifikasi batas absolut seperti garis kemiskinan. "Desil 5 tidak berarti otomatis 'kelas menengah' dan Desil 9 tidak otomatis berarti 'orang kaya'. Status kemiskinan memiliki konsep dan ukuran tersendiri berdasarkan garis kemiskinan," tuturnya.