Update
Ketegangan Seputar Ijazah Jokowi dan Gibran, Bambang Tri Mulyono: Ada Ancaman bagi Gibran di Pilpres 2029 Dukungan Gus Lilur untuk Reformasi PBNU oleh Gus Kikin Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM Ketegangan Seputar Ijazah Jokowi dan Gibran, Bambang Tri Mulyono: Ada Ancaman bagi Gibran di Pilpres 2029 Dukungan Gus Lilur untuk Reformasi PBNU oleh Gus Kikin Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM
Ekonomi

Penurunan Harga Minyak Menjelang Pengumuman Sanksi Baru AS terhadap Iran

Harga minyak mengalami penurunan lebih dari US$1 per barel pada perdagangan awal pekan ini, seiring investor melakukan aksi ambil untung menjelang pengumuman sanksi baru dari Amerika Serikat terhadap...

Eko Prasetyo 24 August 2026 68 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Harga minyak turun lebih dari US$1 per barel pada perdagangan awal Senin (24/8) menjelang pengumuman Amerika Serikat (AS) terkait sanksi baru terhadap Iran. (Foto: Getty Images via AFP/JUSTIN SULLIVAN)
Harga minyak turun lebih dari US$1 per barel pada perdagangan awal Senin (24/8) menjelang pengumuman Amerika Serikat (AS) terkait sanksi baru terhadap Iran. (Foto: Getty Images via AFP/JUSTIN SULLIVAN)

Harga minyak mengalami penurunan lebih dari US$1 per barel pada perdagangan awal Senin (24/8), di tengah aksi ambil untung yang dilakukan oleh para investor menjelang pengumuman sanksi baru dari Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Berdasarkan informasi dari Reuters, harga minyak Brent berjangka turun sebesar US$1,22 atau 1,29 persen menjadi US$93,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah sebesar US$1,20 atau 1,38 persen, mencapai level US$85,86 per barel.

Kedua kontrak minyak tersebut sebelumnya mengalami kenaikan mingguan untuk kedua kalinya secara berturut-turut, dengan Brent dan WTI masing-masing mencatatkan penguatan lebih dari 5 persen pada pekan lalu. Kenaikan harga minyak ini terjadi di tengah ketegangan yang berlangsung dalam pembicaraan damai antara AS dan Iran, yang turut membatasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menyuplai sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Antisipasi Pasar terhadap Kebijakan AS

Pergerakan harga minyak di awal pekan ini sangat dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan baru yang akan dikeluarkan oleh Washington terkait Iran. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dijadwalkan untuk mengadakan konferensi pers pada hari Senin pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 GMT. Bessent sebelumnya telah mengancam akan memberlakukan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran.

Presiden AS, Donald Trump, juga menyatakan ancaman akan menjatuhkan sanksi kepada negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Iran. Vivek Dhar, analis komoditas dari Commonwealth Bank of Australia, menyampaikan bahwa efektivitas kebijakan AS dalam mengisolasi perekonomian Iran masih belum jelas. "Namun jika langkah AS berhasil sesuai tujuan, kemampuan Iran untuk merespons melalui peningkatan kekerasan menjadi risiko yang semakin besar untuk dipertimbangkan pasar energi," tulis Dhar dalam catatannya.

Tanggapan Iran dan Perbedaan Pandangan di Dalam Negeri

Iran telah mengkritik rencana AS untuk memberlakukan sanksi baru. Namun, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, tetap menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Tony Sycamore, analis dari IG Markets, menilai terdapat perbedaan pandangan di antara para pemimpin Iran mengenai cara merespons tekanan dari AS. Dia berpendapat bahwa kelompok yang lebih pragmatis di Iran cenderung menginginkan de-eskalasi, sementara kelompok garis keras mungkin memilih untuk terus melawan hingga akhir.

"Saya pikir pada akhir pekan ini kita akan memiliki gambaran yang baik mengenai pihak mana dalam kepemimpinan Iran yang lebih unggul," ungkap Sycamore.

Artikel Terkait