Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Jago, yang merupakan lembaga keuangan berbasis teknologi, memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) sebagai alat pendukung digital untuk membantu karyawan dalam menjalankan tugas sehari-hari. Dengan pendekatan ini, para Jagoan, sebutan untuk karyawan Bank Jago, dapat mengalihkan perhatian mereka pada pekerjaan yang memerlukan pemahaman mendalam terhadap nasabah, penyelesaian masalah, serta pengembangan tim. Pernyataan ini disampaikan oleh Pratomo Soedarsono (Tommy), Head of People & Culture PT Bank Jago Tbk, di hadapan ratusan anggota Asosiasi Internasional Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Bisnis (AIESEC) baru-baru ini.
Penerapan AI dalam Sektor Perbankan
Dalam kesempatan tersebut, Tommy menjelaskan tentang pemanfaatan AI dalam industri perbankan dan strategi yang diterapkan untuk mempersiapkan organisasi serta talenta dalam menghadapi perubahan yang terjadi di sektor ini. Ia menekankan bahwa di balik berbagai produk dan layanan digital, terdapat individu yang terus belajar, beradaptasi, dan membuat keputusan sesuai dengan kebutuhan nasabah yang terus berkembang. Saat ini, AI mulai merambah ke berbagai aspek pekerjaan, yang berpotensi menggantikan beberapa peran manusia.
"Di Bank Jago, AI dimanfaatkan untuk memberikan saran, tetapi keputusan tetap berada di tangan manusia. Dengan demikian, prosedur rutin yang memakan waktu dapat diminimalisir, dan tim dapat lebih fokus dalam melatih talenta, memahami konteks, serta mengambil keputusan yang lebih bermakna," ungkap Tommy di Universitas Indonesia, Jakarta.
Perubahan Budaya Kerja di Bank Jago
Bank Jago juga melakukan penyesuaian dalam cara kerja di dalam organisasi. Karyawan diberikan lebih banyak ruang untuk mengambil keputusan, serta tim diberikan keleluasaan untuk menyelesaikan masalah tanpa harus menunggu persetujuan dari atasan. Tommy menjelaskan bahwa pola kerja ini sesuai untuk bank yang mengedepankan inovasi dan kolaborasi dalam ekosistem digital, di mana pengembangan produk dan layanan melibatkan berbagai fungsi.
Kelincahan dalam pengambilan keputusan menjadi sangat penting agar organisasi dapat merespons dengan cepat terhadap kebutuhan nasabah dan perubahan pasar. "Namun, ruang untuk mengambil keputusan harus diimbangi dengan kemampuan yang terus berkembang. Oleh karena itu, kami mengembangkan capability journey untuk membantu karyawan dalam mengevaluasi kemampuan mereka dan menentukan area yang perlu diperkuat," jelas Tommy.
Perubahan dalam cara kerja ini juga berdampak pada peran pemimpin. Dengan tim yang memiliki lebih banyak kebebasan dalam pengambilan keputusan, pemimpin tidak lagi hanya berfungsi sebagai pemberi instruksi. Peran mereka bertransformasi menjadi mentor dan fasilitator yang membantu anggota tim dalam berdiskusi, menemukan solusi, dan berkembang.
Tommy menekankan pentingnya kepercayaan dalam proses ini. "Ketika orang diberikan ruang dan kepercayaan, mereka tidak hanya bekerja lebih baik, tetapi juga berkembang lebih cepat," tuturnya.
Pada akhirnya, teknologi dan pengembangan talenta di Bank Jago berjalan beriringan. AI berperan dalam mengurangi beban pekerjaan rutin, sementara organisasi berupaya menyiapkan individu yang mampu memanfaatkan waktu dan ruang tersebut untuk tugas yang lebih bernilai. Bagi Bank Jago, membangun bank berbasis teknologi berarti memastikan bahwa produk dan layanan terus berkembang, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang dapat menggerakkannya. "AI dapat membantu organisasi bekerja lebih cepat, tetapi manusia tetap berperan dalam menentukan bagaimana teknologi digunakan, mengambil keputusan, dan membangun kepercayaan dengan nasabah," tutup Tommy.