Update
News

Teddy Indra Wijaya di LRT: Pengamat Menilai Tindakan untuk Memberikan Ruang bagi Disabilitas

Video Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang mendampingi Presiden Prabowo Subianto di LRT menuai perhatian, dengan pengamat menyebut tindakan tersebut sebagai upaya untuk memberikan ruang bagi pen...

Gyan Kusuma 19 September 2026 3 pembaca jpnn.com jpnn.com
Video Viral Teddy Indra Wijaya di LRT, Pengamat Sebut untuk Beri Ruang Disabilitas
Video Viral Teddy Indra Wijaya di LRT, Pengamat Sebut untuk Beri Ruang Disabilitas

Video yang menunjukkan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto di dalam LRT menarik perhatian publik. Dalam rekaman yang beredar di media sosial, Teddy tampak meminta seorang pejabat LRT untuk berpindah posisi di dalam gerbong, yang kemudian menimbulkan anggapan bahwa ia mengusir pejabat tersebut dari gerbong yang ditumpangi oleh Presiden Prabowo.

Penjelasan Pengamat Mengenai Tindakan Teddy

Namun, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai bahwa anggapan tersebut tidak akurat. Dia menjelaskan bahwa tindakan Teddy lebih kepada pengaturan situasi di dalam gerbong agar tersedia ruang bagi Presiden Prabowo dan seorang penumpang penyandang disabilitas. "Memindahkan posisi agar ada ruang bagi Pak Prabowo dan juga salah satu penumpang yang disabilitas itu, Prof. Itu kan tindakan-tindakan momentum, bukan tindakan formal, bukan disposisi," ujar Dedi pada Kamis (18/9).

Dedi menambahkan bahwa video yang beredar hanya menampilkan sebagian kecil dari situasi yang sebenarnya, sehingga dapat dengan mudah menimbulkan berbagai penafsiran. "Publik hanya akan melihat apa yang tampak di permukaan secara langsung. Dan kita harus maklum kalau kemudian itu mendapatkan penafsiran yang berbeda dan menimbulkan kesalahpahaman yang tinggi," tambahnya.

Kemungkinan Tindakan Teddy dan Agenda Presiden

Lebih lanjut, Dedi menilai bahwa kecil kemungkinan Teddy mengusir pejabat LRT, mengingat perjalanan tersebut berkaitan dengan agenda Presiden bersama pihak LRT. "Sebetulnya tidak akan mungkin Seskab Teddy mengusir pejabat LRT sementara agenda Presiden bersama LRT. Itu saya kira sesuatu yang mustahil," tuturnya.

Dia juga menjelaskan bahwa posisi Teddy dalam situasi tersebut berkaitan dengan perannya sebagai pendamping Presiden. Dedi menyatakan bahwa pengaturan terhadap orang-orang di sekitar Presiden dilakukan atas inisiatif pribadi Teddy, bukan berdasarkan kewenangan formal sebagai Seskab. "Karena Teddy melekat dan berada dalam situasi yang sama dengan Presiden, kemudian secara inisiatif dan personal mengatur siapa yang boleh ada di ruangan bersama Presiden, siapa yang harus didahulukan, dan lain-lain," jelas Dedi.

"Ini saya kira adalah inisiatif personal Teddy sebagai orang dekat Presiden, bukan inisiatif Teddy sebagai Seskab," sambungnya. Menurut Dedi, tindakan tersebut merupakan respons situasional dalam perjalanan Presiden, sehingga tidak tepat jika dipahami sebagai tindakan formal seorang pejabat negara.

Artikel Terkait