Update
Transformasi Kecerdasan Buatan: Dari Chatbot ke Solusi Bisnis yang Lebih Canggih The Fed Pertahankan Suku Bunga di Rentang 3,75-4 Persen untuk Menjaga Inflasi Evaluasi Kinerja Menteri dalam Kabinet Prabowo Menjadi Sorotan Penyidikan Kasus Korupsi di Bengkulu, KPK Panggil Anggota DPRD Vinna Ledy Anggraheni Wakil Menteri Stella Christie: Kampus Harus Jadi Pionir dalam Industri Kendaraan Listrik Viral Dugaan Gerakan Demo Diperjualbelikan: Proposal Rp39 Juta Aliansi BEM Surabaya Jadi Sorotan Pertamina Patra Niaga Memperkuat Ketahanan Energi dan Layanan yang Andal Analisis Burhanuddin Muhtadi: Kontroversi Ijazah Gibran, Untung atau Buntung? Berita Terhangat: Informasi Positif untuk Guru Honorer dan PPPK Paruh Waktu, BKN Umumkan Regulasi Alih Status Teh Botol Sosro Menanggapi Video Viral Terkait Dugaan Produk Mengandung Sabun Transformasi Kecerdasan Buatan: Dari Chatbot ke Solusi Bisnis yang Lebih Canggih The Fed Pertahankan Suku Bunga di Rentang 3,75-4 Persen untuk Menjaga Inflasi Evaluasi Kinerja Menteri dalam Kabinet Prabowo Menjadi Sorotan Penyidikan Kasus Korupsi di Bengkulu, KPK Panggil Anggota DPRD Vinna Ledy Anggraheni Wakil Menteri Stella Christie: Kampus Harus Jadi Pionir dalam Industri Kendaraan Listrik Viral Dugaan Gerakan Demo Diperjualbelikan: Proposal Rp39 Juta Aliansi BEM Surabaya Jadi Sorotan Pertamina Patra Niaga Memperkuat Ketahanan Energi dan Layanan yang Andal Analisis Burhanuddin Muhtadi: Kontroversi Ijazah Gibran, Untung atau Buntung? Berita Terhangat: Informasi Positif untuk Guru Honorer dan PPPK Paruh Waktu, BKN Umumkan Regulasi Alih Status Teh Botol Sosro Menanggapi Video Viral Terkait Dugaan Produk Mengandung Sabun
Ekonomi

The Fed Pertahankan Suku Bunga di Rentang 3,75-4 Persen untuk Menjaga Inflasi

Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen diambil untuk menurunkan inflasi tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi. Ketua The Fed, Kevin Warsh, optimis...

Yoga Samadhi 29 October 2026 1 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,75-4 persen demi tekan inflasi tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi. Ketua Kevin Warsh optimis perekonomian AS stabil. (FOTO:AFP PHOTO/Paul J. Richards).
The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,75-4 persen demi tekan inflasi tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi. Ketua Kevin Warsh optimis perekonomian AS stabil. (FOTO:AFP PHOTO/Paul J. Richards).

Pada Rabu (28/10) waktu setempat, Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, mengumumkan keputusan untuk menahan tingkat suku bunga acuannya di antara 3,75 persen hingga 4,00 persen. Keputusan ini diambil melalui pemungutan suara yang menghasilkan 10 suara setuju dan 2 suara menolak.

Dalam konferensi pers setelah rapat kebijakan yang berlangsung selama dua hari, Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyatakan keyakinannya bahwa inflasi di AS dapat diturunkan menuju target 2 persen tanpa harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi atau meningkatkan angka pengangguran. Ia juga memproyeksikan laporan produk domestik bruto (PDB) kuartal III yang akan dirilis pada Kamis (29/10) menunjukkan tren positif dalam investasi dan belanja konsumen, serta percepatan pertumbuhan dibandingkan dengan paruh pertama tahun ini.

Perekonomian AS dalam Kondisi Stabil

Walaupun demikian, Warsh menilai bahwa kondisi perekonomian AS saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda overheating atau inflasi yang disebabkan oleh lonjakan permintaan yang perlu ditekan secara drastis. "Perekonomian bergerak ke arah yang benar. Apakah perekonomian tumbuh terlalu panas? Apakah perekonomian tumbuh terlalu kuat? Itu bukan penilaian sebagian besar kolega saya," ujarnya.

Dampak Suku Bunga Terhadap Investasi

Warsh menegaskan bahwa perubahan dalam produktivitas, termasuk yang terjadi sebelum munculnya teknologi kecerdasan buatan (AI), memungkinkan AS untuk tumbuh lebih cepat tanpa memicu inflasi yang tinggi seperti sebelumnya. "Menurut saya, tujuannya bukanlah menghambat roda perekonomian dan membuat orang kehilangan pekerjaan. Saya tidak berpikir kita harus melakukan itu," tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa suku bunga kebijakan yang lebih tinggi telah mulai menunjukkan dampaknya, dengan kondisi kredit yang menjadi sedikit lebih ketat. Hal ini berimbas pada melambatnya investasi bisnis, yang dianggap turut berkontribusi terhadap penurunan pasar saham baru-baru ini. Menurut Warsh, jika penurunan pasar saham tersebut berhasil menekan tingkat belanja dari keluarga berpenghasilan tinggi, maka kondisi ini dapat menjadi sumber tambahan untuk disinflasi atau perlambatan kenaikan harga.

Artikel Terkait