Update
Pertamina Patra Niaga Memperkuat Ketahanan Energi dan Layanan yang Andal Analisis Burhanuddin Muhtadi: Kontroversi Ijazah Gibran, Untung atau Buntung? Berita Terhangat: Informasi Positif untuk Guru Honorer dan PPPK Paruh Waktu, BKN Umumkan Regulasi Alih Status Teh Botol Sosro Menanggapi Video Viral Terkait Dugaan Produk Mengandung Sabun Ahok Dorong Transparansi Anggaran dalam Dialog Antargenerasi DJP Mengungkap 22 Ribu Wajib Pajak Terdaftar dalam Kebijakan Pajak Minimum Global Perbedaan Visi Prabowo dan Jokowi, Yunarto Wijaya: Anies Mungkin Tak Akan Mengejutkan Seperti Ini Peluncuran Antologi Pemikiran Nasional dalam Memperingati Sumpah Pemuda ke-98 Persatuan Tak Terduga: PKS dan PDIP Urus Gibran Wamen HAM Soroti Pentingnya Perlindungan Hak dalam RUU Perampasan Aset Pertamina Patra Niaga Memperkuat Ketahanan Energi dan Layanan yang Andal Analisis Burhanuddin Muhtadi: Kontroversi Ijazah Gibran, Untung atau Buntung? Berita Terhangat: Informasi Positif untuk Guru Honorer dan PPPK Paruh Waktu, BKN Umumkan Regulasi Alih Status Teh Botol Sosro Menanggapi Video Viral Terkait Dugaan Produk Mengandung Sabun Ahok Dorong Transparansi Anggaran dalam Dialog Antargenerasi DJP Mengungkap 22 Ribu Wajib Pajak Terdaftar dalam Kebijakan Pajak Minimum Global Perbedaan Visi Prabowo dan Jokowi, Yunarto Wijaya: Anies Mungkin Tak Akan Mengejutkan Seperti Ini Peluncuran Antologi Pemikiran Nasional dalam Memperingati Sumpah Pemuda ke-98 Persatuan Tak Terduga: PKS dan PDIP Urus Gibran Wamen HAM Soroti Pentingnya Perlindungan Hak dalam RUU Perampasan Aset
Politik

Analisis Burhanuddin Muhtadi: Kontroversi Ijazah Gibran, Untung atau Buntung?

Polemik mengenai ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diperkirakan tidak akan menghalangi langkah politiknya menuju Pemilu 2029, meskipun bisa menjadi beban politik yang berkepanjangan.

Karim Abinaya 29 October 2026 2 pembaca fajar.co.id fajar.co.id
Wakil Presiden, Gibran Rakabuming
Wakil Presiden, Gibran Rakabuming

Kontroversi seputar ijazah Gibran Rakabuming Raka, yang menjabat sebagai Wakil Presiden, tidak serta merta menjadi penghalang bagi karier politiknya menjelang Pemilu 2029. Burhanuddin Muhtadi, seorang pengamat politik, berpendapat bahwa isu ini bisa jadi justru menarik simpati masyarakat, meskipun di sisi lain dapat menimbulkan beban politik yang berkepanjangan.

Isu ijazah ini kembali mencuat setelah Presiden Joko Widodo mengisyaratkan adanya kemungkinan operasi politik di balik masalah dokumen pendidikan yang melibatkan dirinya dan putranya. Burhanuddin, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, menyatakan bahwa dampak dari kontroversi ini terhadap elektabilitas Gibran tidak bisa disimpulkan dengan mudah. Ia menegaskan bahwa isu yang ramai dibicarakan tidak selalu berbanding lurus dengan penurunan dukungan dari masyarakat. "Siapa tahu justru meningkatkan simpati terhadap Mas Gibran," ungkapnya dalam sebuah wawancara di YouTube TV One.

Polemik Ijazah sebagai Beban Politik

Walaupun tidak selalu berdampak negatif terhadap elektabilitas, Burhanuddin mengingatkan bahwa isu ijazah ini dapat terus menghantui perjalanan politik Gibran. Kontroversi yang berulang kali muncul di ruang publik bisa menjadi gangguan, terutama saat dinamika politik menjelang Pemilu 2029 semakin intens. Ia mengibaratkan masalah ini seperti kerikil dalam sepatu; meskipun tampak kecil, jika dibiarkan, bisa mengganggu perjalanan.

Dalam konteks politik, kontroversi yang terus berlanjut dapat menarik perhatian publik dan memaksa seorang tokoh politik untuk terus memberikan penjelasan terkait isu yang sama. Bagi Gibran, situasi ini penting karena ia bukan hanya putra mantan presiden, tetapi juga seorang Wakil Presiden yang memiliki peran strategis dalam pemerintahan. Dengan posisi tersebut, polemik yang menyangkut dirinya bisa melampaui isu reputasi pribadi dan masuk ke dalam diskusi tentang legitimasi, kepercayaan publik, serta prospek politiknya di masa depan.

Dinamika Elektabilitas Gibran

Burhanuddin tidak menyatakan bahwa kontroversi ijazah akan merusak peluang Gibran dalam Pemilu 2029. Akhirnya, dampak dari polemik ini tergantung pada bagaimana isu tersebut berkembang dan bagaimana masyarakat meresponsnya. Polemik ijazah menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi Gibran di tengah dinamika pemerintahan dan persiapan menuju kontestasi politik mendatang.

Di satu sisi, isu yang terus berulang dapat menjadi beban jika tidak segera diselesaikan dan terus menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat. Namun, di sisi lain, kontroversi ini juga belum tentu membuat pendukungnya beralih pilihan. Oleh karena itu, menilai dampak elektoral dari polemik ijazah hanya berdasarkan pemberitaan atau perdebatan di media sosial berisiko menghasilkan kesimpulan yang prematur. Hasil survei, tren kepercayaan publik, serta perubahan sikap pemilih dalam periode mendatang menjadi beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan untuk mengukur dampak yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, polemik ijazah Gibran menyisakan dua kemungkinan: menjadi beban yang terus mengganggu langkah politiknya atau tidak banyak memengaruhi dukungan pemilih. Seperti yang diingatkan oleh Burhanuddin, kontroversi tidak otomatis berarti penurunan elektabilitas. Namun, jika isu ini terus berlanjut, tetap ada potensi untuk menjadi kerikil yang menghalangi langkah politik Gibran menuju 2029.

Artikel Terkait