JAKARTA, iNews.id - Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin luas ternyata tidak hanya memerlukan konsumsi listrik yang tinggi. Di balik kemampuannya untuk memberikan jawaban dalam waktu singkat, teknologi AI juga membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mendukung sistem pendinginan di pusat data.
Profesor Agustino Zulys, seorang Guru Besar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa pusat data AI memanfaatkan air sebagai media untuk menjaga suhu perangkat keras agar tetap stabil dan tidak terlalu panas saat memproses berbagai perintah dari pengguna. "Menggunakan AI akan mengurangi air minum kita? Betul, data center AI butuh air bersih, tapi bukan untuk diminum, melainkan untuk mendinginkan agar otaknya tidak kepanasan," ungkap Prof Zulys dalam sebuah video edukasi yang diunggah di akun Instagram pribadinya.
Proses Kerja AI yang Menghasilkan Panas
Dalam penjelasannya, Prof Zulys menyatakan bahwa setiap kali pengguna mengajukan pertanyaan kepada AI, proses tersebut melibatkan ribuan chip yang ada di pusat data. Chip-chip ini bekerja melakukan miliaran operasi komputasi yang tidak hanya memerlukan listrik tetapi juga menghasilkan panas. "Ketika kita bertanya kepada AI, jawaban yang muncul dalam beberapa detik itu sebenarnya dikerjakan ribuan otak atau chip di data center. Chip melakukan miliaran operasi, itu membutuhkan listrik, menghasilkan panas," jelasnya.
Dampak Lingkungan dari Penggunaan AI
Dengan meningkatnya penggunaan AI di berbagai sektor, kebutuhan akan air untuk sistem pendinginan pusat data menjadi perhatian tersendiri. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi ini menawarkan berbagai kemudahan, dampak lingkungan dari operasionalnya juga perlu dipertimbangkan secara serius.