Update
Teknologi

Pentingnya Keseimbangan Aktivitas Anak di Era Digital, Usulan Kak Seto

Kak Seto Mulyadi menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara aktivitas anak di dunia maya dan interaksi sosial di lingkungan sekitar, serta mengusulkan pembentukan Seksi Perlindungan Anak di Tingk...

Kalula Putri 08 October 2026 62 pembaca inews.id inews.id
Advertisement
Advertisement

JAKARTA, iNews.id - Seto Mulyadi, yang dikenal sebagai Kak Seto, selaku Ketua Dewan Pakar Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), mengingatkan akan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas anak di dunia digital dan interaksi sosial di sekitarnya. Ia menekankan bahwa anak-anak sebaiknya tidak terlalu terfokus pada dunia maya sehingga mengabaikan hubungan dengan keluarga dan tetangga.

Pernyataan tersebut disampaikan Kak Seto saat memberikan penghargaan atas penerapan Peraturan Pemerintah mengenai Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Menurutnya, perlindungan anak di era digital bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan sekolah, tetapi juga memerlukan peran aktif dari keluarga dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak.

Apresiasi terhadap Langkah Pemerintah

"Kami apresiasi sekali terhadap langkah Ibu Menteri, suatu langkah yang sangat berani dengan PP Tunas ini dan perlu didukung oleh seluruh masyarakat," ungkap Kak Seto dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital pada Rabu (7/10/2026). Ia mengingatkan agar masyarakat tidak hanya terjebak dalam aktivitas digital yang dapat mengurangi komunikasi dengan orang-orang di sekeliling mereka.

Usulan Pembentukan SPARTA

Kak Seto kemudian mengusulkan agar dibentuk Seksi Perlindungan Anak di Tingkat Rukun Tetangga (SPARTA). Ia berpendapat bahwa keberadaan SPARTA dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan anak dan menjadi sarana komunikasi antarwarga. "Jadi RT-RT itu adalah keluarga yang sangat dekat dengan para keluarga. Artinya mohon jangan sibuk dengan dunia digital saja, tidak saling berkomunikasi, tapi juga semua rukun," tegasnya.

Ia berharap lingkungan RT dapat menjadi tempat bagi anak untuk kembali aktif bersosialisasi secara langsung. Kegiatan bersama, seperti permainan tradisional, dianggap sebagai alternatif yang baik untuk mengurangi ketergantungan terhadap perangkat digital. "Kadang-kadang juga ya permainan-permainan tradisional, ada gobak sodor, ada engklek, ada main egrang, dan sebagainya. Jadi ada saatnya mereka bersosialisasi dengan teman, tapi ada saatnya juga sibuk dengan dunia digital," tambahnya.

Kak Seto menekankan bahwa teknologi tetap memiliki manfaat bagi anak jika digunakan dengan bijak dan dalam pengawasan yang baik. Oleh karena itu, penggunaan teknologi harus seimbang dengan interaksi sosial agar anak tetap memiliki kesempatan untuk bermain, berkomunikasi, dan beraktivitas bersama lingkungan sekitarnya. Langkah ini dianggap sejalan dengan upaya mewujudkan Indonesia Layak Anak 2030, yang memerlukan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, hingga masyarakat di tingkat lingkungan.

Artikel Terkait