Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memberikan tanggapan terhadap hasil survei yang dirilis oleh Poltracking Indonesia, yang menempatkan elektabilitas mereka pada angka 2,3 persen. Juru Bicara PSI, Kamaruddin, menyatakan bahwa hasil survei tersebut merupakan hal yang wajar dalam konteks dinamika politik yang selalu berubah. Ia menekankan bahwa setiap lembaga survei memiliki metodologi yang berbeda, sehingga hasil yang diperoleh pun bisa bervariasi.
Hasil Survei Sebagai Gambaran Sementara
Kamaruddin menjelaskan bahwa hasil survei tidak dapat dijadikan acuan mutlak untuk memprediksi hasil Pemilu 2029. Ia berpendapat bahwa survei hanya mencerminkan kondisi elektabilitas pada saat penelitian dilakukan, dan situasi politik bisa berubah hingga hari pemungutan suara. "Hasil survey juga mengambarkan kondisi saat waktu dilakukan Survey, belum tentu nantinya ketika hari H Pemilu hasilnya sama ketika waktu survey dilakukan," ungkapnya. Ia juga mengingatkan bahwa banyak partai yang kini memiliki kursi di parlemen pernah mencatatkan angka elektabilitas yang rendah dalam survei sebelumnya.
Optimisme PSI Menjelang Pemilu 2029
Kamaruddin menegaskan bahwa dinamika politik menjadi alasan mengapa hasil survei pada satu periode tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk memproyeksikan hasil pemilu mendatang. "Politik itu sangat dinamis, sehingga hasil survey saat ini tidak bisa menjadi ukuran," ujarnya. Meskipun PSI tercatat memiliki elektabilitas 2,3 persen dalam survei Poltracking, Kamaruddin tetap optimis bahwa partainya dapat meningkatkan dukungan hingga mencapai dua digit pada Pemilu 2029. "Kita tetap Optimis dengan arahan-arahan Pak Jokowi, PSI bisa tembus 2 digit pada Pemilu 2029," tegasnya.
Sebelumnya, Poltracking Indonesia juga merilis hasil survei yang menunjukkan Partai Gerindra berada di posisi teratas dengan elektabilitas 23,2 persen, diikuti oleh PDIP dan Partai Golkar. Survei tersebut dilakukan antara 14 hingga 20 Agustus 2026, melibatkan 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,9 persen. Peneliti Poltracking, Yoki Alvetro, menyatakan bahwa survei ini menggunakan simulasi bilik suara untuk mengukur elektabilitas partai politik.
Dalam survei tersebut, responden ditanya mengenai partai politik atau calon anggota DPR RI yang akan mereka pilih jika pemungutan suara dilakukan saat survei berlangsung. Hasilnya menunjukkan bahwa Partai Gerindra memperoleh elektabilitas 23,2 persen, mengungguli partai-partai lain yang mendukung pemerintahan saat ini. Berikut adalah hasil survei elektabilitas partai politik Poltracking Indonesia: 1. Gerindra: 23,2 persen, 2. PDIP: 11,6 persen, 3. Golkar: 10,4 persen, 4. PKB: 6,2 persen, 5. Demokrat: 6,1 persen, 6. NasDem: 4,4 persen, 7. PAN: 3,4 persen, 8. PKS: 3,3 persen, 9. PSI: 2,3 persen, 10. PPP: 1,9 persen, 11. Perindo: 0,6 persen, 12. Partai Buruh: 0,5 persen, 13. Hanura: 0,3 persen, 14. Ummat: 0,1 persen, 15. PBB: 0,1 persen, 16. Garuda: 0,1 persen, 17. PKN: 0,1 persen, 18. Gelora: 0,1 persen. Sementara itu, 25,3 persen responden menyatakan tidak tahu atau tidak memberikan jawaban.