Update
Teknologi

Tingkat Penipuan Berbasis AI Meningkat, Kebutuhan Teknologi Keamanan Siber Makin Mendesak

Kemajuan kecerdasan buatan (AI) telah dimanfaatkan oleh penjahat siber untuk melakukan penipuan yang semakin canggih, sehingga perlindungan data pribadi menjadi sangat penting.

Aruna Sasmita 10 October 2026 59 pembaca inews.id inews.id
Advertisement
Advertisement

JAKARTA, iNews.id - Kemajuan dalam kecerdasan buatan (AI) tidak hanya memberikan kemudahan dalam berbagai aktivitas digital, tetapi juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melakukan penipuan yang semakin meyakinkan. Hal ini menjadikan perlindungan terhadap data pribadi, identitas, dan privasi pengguna internet semakin krusial.

Data dari Global Anti Scam Alliance menunjukkan bahwa 66 persen orang dewasa di Indonesia telah menjadi korban penipuan dalam satu tahun terakhir. Ancaman serupa juga terjadi di seluruh dunia, di mana survei terhadap 7.000 konsumen mengungkapkan bahwa satu dari tujuh responden mengalami penipuan dalam periode yang sama.

Titik Rawan dalam Aktivitas Digital

Perangkat mobile menjadi salah satu titik rawan dalam aktivitas digital. Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 48 persen responden tidak menggunakan solusi keamanan dari pihak ketiga di ponsel mereka. Meskipun 53 persen dari mereka menggunakan perangkat tersebut untuk aktivitas sensitif seperti membayar tagihan dan berbelanja online, banyak yang tidak menyadari risiko yang ada.

Seiring dengan perkembangan teknologi, pelaku kejahatan siber semakin memanfaatkan AI untuk menciptakan pesan, identitas, dan skenario penipuan yang lebih sulit dikenali. Metode rekayasa sosial atau social engineering juga digunakan untuk memanipulasi korban agar memberikan informasi pribadi, mengakses tautan berbahaya, atau melakukan transaksi tertentu. Selain itu, penyebaran malware, phishing, pencurian identitas, dan penyalahgunaan teknologi deepfake menjadi tantangan besar dalam menjaga keamanan di ruang digital.

Kerja Sama untuk Meningkatkan Keamanan Digital

Dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang ini, perusahaan keamanan siber Bitdefender telah menjalin kerja sama distribusi dengan Gema Informatika Abadi (PT GIA) untuk memperluas akses terhadap teknologi perlindungan digital bagi konsumen di Indonesia. Kerja sama ini mencakup distribusi berbagai solusi keamanan untuk komputer dan perangkat mobile, perlindungan identitas dan privasi, teknologi antipenipuan, serta pendeteksi deepfake.

Cakupan teknologi yang ditawarkan menggambarkan berbagai pendekatan dalam perlindungan digital. Keamanan perangkat berfungsi untuk mendeteksi dan mencegah ancaman seperti malware, sementara perlindungan terhadap phishing membantu mengenali upaya pencurian informasi melalui situs atau pesan palsu. Teknologi perlindungan identitas dan privasi dirancang untuk mengurangi risiko penyalahgunaan informasi pribadi, sedangkan teknologi pendeteksi deepfake dikembangkan untuk membantu mengidentifikasi konten sintetis yang dibuat dengan AI dan berpotensi digunakan dalam penipuan.

Senior Vice President of Operations Bitdefender Consumer Solutions Group, Ciprian Istrate, menyatakan bahwa AI telah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan skala dan meyakinkan target dalam menjalankan aksinya. “Pelaku kejahatan siber menggunakan AI untuk menjalankan kampanye penipuan yang meyakinkan dalam skala besar serta menyebarkan malware, sehingga konsumen menghadapi risiko yang semakin besar,” ujarnya.

Direktur PT GIA, Chok, menambahkan bahwa meningkatnya aktivitas perbankan, belanja, dan komunikasi melalui internet membuat perlindungan terhadap data pribadi dan identitas menjadi semakin penting. Ia menjelaskan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk memperluas akses masyarakat terhadap teknologi keamanan siber guna menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.

“Di tengah meningkatnya risiko kejahatan siber, penggunaan perangkat lunak keamanan perlu diimbangi dengan kebiasaan digital yang aman. Pengguna disarankan untuk mengaktifkan autentikasi multifaktor, memperbarui sistem operasi dan aplikasi, menggunakan kata sandi yang kuat, serta memeriksa keaslian tautan dan identitas pengirim sebelum memberikan informasi pribadi,” katanya.

Pengguna juga diingatkan untuk berhati-hati terhadap pesan atau panggilan yang mendesak untuk melakukan transfer uang, membagikan kode OTP, atau mengirimkan data sensitif. Konten audio dan video yang tampak meyakinkan pun perlu diverifikasi melalui saluran komunikasi lain, terutama jika berkaitan dengan permintaan uang atau informasi rahasia. Kombinasi antara teknologi keamanan dan kewaspadaan pengguna menjadi kunci untuk mengurangi risiko penipuan di tengah perkembangan AI dan semakin luasnya aktivitas masyarakat di ruang digital.

Artikel Terkait